Jumat, 17 Februari 2017

Doa Agar Bayi Lahir Sempurna dan Cerdas

Doa merupakan harapan bagi umat manusia. Do’a dipercaya dapat merubah takdir yang buruk menjadi takdir yang baik. Bahkan muslim percaya bahwa doa adalah pedang bagi orang yang beriman. Terlebih bagi ibu hamil, berdoa merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan jabang bayi dan Tuhan YME. Dengan doa, janin dapat menerima energi positif dari ibu.
Memperbanyak amalan, ibadah dan do’a saat mengandung tentu berdampak positif untuk jabang bayi. Seperti diyakini banyak ahli parenting, pendidikan dapat dimulai sejak bayi masih dalam kandungan. Memperbanyak berdoa dihari-hari biasa sangat dianjurkan agar anak dapat tumbuh dengan akhlak yang mulia.
Ada doa-doa yang mudah dikabulkan jika dilangsungkan pada waktu-waktu tertentu. Berikut Waktu-waktur terkabulnya do’a;

  • Ketika adzan tengah berkumandang
  • Waktu antara adzan dan iqomah
  • Ketika bersujud didalam sholat
  • Waktu sebelum mengucap salam pada sholat wajib
  • Pada hari Jumat
  • Ketika hujan tengan turun
  • Pada hari rabu, diantara waktu dhuhur dan ashar
  • Ketika berada dalam perang
  • Ketika hendak meminum air zam-zam

Waktu berdo’a paling mustajab saat bulan ramadhan

Selain waktu diatas, terdapat bulan yang penuh hikmah, penuh pengampunan dan penuh waktu mustajab untuk berdoa, yakni saat bulan ramadhan. Dan dalam bulan ramadhan terdapat waktu yang mustajab untuk berdoa selain waktu-waktu yang telah disebutkan diatas. Bulan yang paling mustajab adalah ketika bulan ramadhan. Dan dalam bulan ramadhan terdapat waktu-waktu tertentu yang paling mudah dikabulkan ketika berdoa. Menurut para ulama, dalam bulan ramadhan terdapat tiga waktu dimana doa seringkai dikabulkan ALLAH SWT. Berikut tiga waktu tersebut;

Saat Sahur/Sepertiga Malam

Berdasarkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ

يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir". Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758).

Saat Berbuka

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

10 Malam Akhir dalam Ramadhan

Sepuluh malam akhir dalam bulan ramadhan memiliki banyak kefadholan. Diantaranya, doa-doa mudah didengar ALLAH SWT dan amalan kita dilipatgandakan.
Maka, ada baiknya dalam tiga waktu tersbut ibu hamil banyak-banyak melafalkan do’a untuk janin dalam kandungan. Selain berharap do’a yang dilafalkan dapat dikabulkan ALLAh SWT, dengan doa tersebut ibu dan bayi juga dapat merasa tenang.

Rabu, 15 Februari 2017

5 Doa Wajib Dibaca Ibu Hamil

Saat hamil banyak hal yang dilakukan agar bayi lahir sehat, cerdas, dan berakhlak baik. Dari melakukan metode seperti senam, yoga ibu hamil, dan beberpa terapi medis dilakukan selama dalam kehamilan berlangsung. Namun sebagai orang beragama tentunya tidak akan seimbang jika tidak disempurnakan dengan berdoa.

Karena segala sesuatu yang ada di bumi adalah atas seijin Tuhan Yang Maha Esa. Berdoa merupakan hal penting yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Terutama untuk kaum muslim doa ibu hamil berikut ini jangan sampai ketinggalan. Diantaranya adalah:
1. QS. Ali Imran 35-36
Doa untuk ibu hamil yang pertama yaitu diambil dari surat Ali Imran 35-36. Berikut adalah bacaan latinnya :

“Bismillahhirrahmaanir rahiim, Robbi inni nadzartu laka maa fii bathnii muharroron fataqobbalminnii, Innaka antas sami’ul alim”

Arti dari potongan surat di atas yaitu : Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku manjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui dan aku mohon perlindungan untuknya dan keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk.

2. Doa keselamatan ibu hamil

Doa ini adalah doa yang bertujuan untuk menjaga ibu hamil beserta janinnya dari segala marabahaya datang. Berikut adalah bacaan latinnya :

Bismillahhirrahmaanir rahiim, Alhamdu lillaahi rabbil’aalamiin, Allaahumma shalli alaa sayyidinaa Muhammad, Thibbil quluubi wadawaaihaa, Wa’aafiyatil abdaani wa syifaa ihaa, Wanuuril abshaari wa dhiyaa ihaa, Waquutil arwaahi wagidzaa ihaa, Wa’alaa aalihi washahbihi wabaarik wa sallim, Allaahummahfazh waladaha maa daama fii bathnihaa, Washfihii ma’a ummihi antasysyaafii laa syifaaa illaa syifaa uka syifaa an laa yugoodiru saqoman, Allaahumma shawwirhu fii bathnihaa shuurotanhasanatan, Watsabbit qolbahu iimaanan bika wabiraa suulika, Allaahumma akhrijhu min bathni ummihi waqta walaada tihaa sahlan wasaliiman, Aaamin, aamin aamin yaa robbal aalamin

Arti dari doa diatas adalah : Dengan menyebut nama Allah yg Maha Pengasih lagi Maha penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah tambahkanlah kesejahteraan kepada penghulu kami Nabi Muhammad SAW Sebagai pengobat dan penawar hatiku, penyehat dan penyegar badanku. Sebagai sinar dan cahaya pandangan mata. Sebagai penguat dan santapan rohani. Dan kepada keluarganya dan para sahabatnya berikanlah keberkahan dan keselamatan. Ya Allah semoga Engkau lindungi bayi ini selama ada dalam kandungan ibunya. Dan semoga Engkau memberikan kepada bayi dan ibunya Allah yang memberi kesehatan. Tidak ada kesehatan selain kesehatan Allah, kesehatan yang tidak diakhiri dengan penyakit lain. Ya Allah semoga Engkau ciptakan bayi ini dalam kandungan ibunya dgn rupa yg bagus Dan semoga Engkau tanamkan hatinya bayi ini iman kepada-Mu ya Allah dan kepada Rosul-Mu. Ya Allah semoga Engkau mengeluarkan bayi ini dari dalam kandungan ibunya pada waktu yg telah ditetapkan dalam keadaan yg sehat dan selamat. Aamin, aamin aamin yaa robbal aalamin Kabulkanlah doa kami, kabulkanlah doa kami.

3. QS. Ali Imran 38
Doa ibu hamil yang satu ini bertujuan agar mendapat keturunan yang baik. Berikut adalah bacaan latinnya :

“Rabbii habli miladunka dzurriyyatan thoyyibah. Innaka sammi’uddu’aa”

Arti dari potongan surat di atas yaitu : Ya Allah berikanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau adalah pendengar permohonan (doa)

4. QS. Ibrahim 40

Selanjutnya doa untuk ibu hamil ini berasal dari potongan surat Ibrahim 40, yang berbunyi : “Robbij’alnii muqiimash sholaati wa min dzurriyatii robbanaa wa taqobbal du’aa”

Arti dari penggalan surat tersebut yaitu : Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami perkenankanlah doaku.

5. QS. Al Furqan 74

Doa ibu hamil selanjutnya yaitu doa memohon keturunan yang menenangkan hati yang ada di dalam QS. Al Furqan 74, yang bertujuan untuk memiliki keturunan yang dapat menjadi penenang hati tentu menjadi dambaan bagi setiap orang dan jika menginginkan hal sama, bunda bisa melafalkan potongan surat Al-Furqan ayat 74 yang berbunyi:

“rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrata a’yuniw waaj’alnaa lilmuttaqiina imaaman” 

Artinya yaitu: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.
Itulah beberapa doa ibu hamil yang tidak boleh ketinggalan dibaca sehari. Masih banyak doa – doa untuk ibu hamil lainnya seperti QS. Maryam (Surat ke-19, ayat 1-15), QS. Al-Mu’minuun ( Surat ke-23, ayat 12-14 ), QS. Ar Rahmaan (Surat ke-55, ayat 1-78), dan masih banyak lagi lainnya.

Senin, 13 Februari 2017

Doa Bersumber dari Al-Quran untuk Ibu Hamil

Membacakan ayat-ayat suci Al-Quran sangat penting dilakukan pada jabang bayi yang masih ada dalam kandungan. Allah mengkaruniakan pendengaran sejak usia kandungan masuk pada minggu ke 8 dan mulai sempurna pada minggu ke24. Alangkah indahnya jika saat mereka mulai mendengar untuk kali pertama, mereka mendengar ayat-ayat suci Al-quran.

1. Fungsi Pendengaran Bayi

Janin mulai mendengar suara yang ada disekelilingnya. Air ketuban disekitar bayi menghantarkan suara sehinga bayi mulai mendengar suara aliran darah lewat plasenta, Janin juga mendengar denyut jantung dan suara usus ibu. Pada minggu ke 25 mereka mulai mampu mendengar suara luar dari suara rahim. Suara ibu, ayah, musik atau ayat suci Al-Quran mulai diterima dengan baik. Pada saat inilah saat yang tepat untuk mulai ngobrol dengan jabang bayi.

2. Manfaat Ayat Suci Al-Quran untuk Janin
  • Ayat Al-Quran dapat Menstimulasi janin sejak dini
Stimulasi sejak dini sangat penting dilakukan karena mempengaruhi kecerdasaan anak dimasa mendatang. Usia 1000 hari sejak dalam kandungan merupakan usia dimana jaringan sel-sel otak bayi berkembang sangat pesat. Maka, stimulasi sangat penting untuk mendukung perkembangan pesat ini agar otak bayi dapat berkembang dengan maksimal.
  • Mencerdaskan janin
Banyak pihak percaya bahwa lantunan ayat suci dapat membuat bayi tumbuh lebih cerdas. Sel-sel otak bayi yang berkembang pesat membuat kerja otak lebih optimal, alhasil bayi bisa tumbuh menjadi anak cerdas.
  • Memberi ketenangan
Stimulasi melalui ayat suci Al-Quran merupkan stimulasi yang sempruna. Frekuensi dan gelombang bunyi yang ditimbulkan bacaan Al-Quran punya pengaruh besar untuk bayi. Mereka akan merasakan ketenangan karena lantunan ayat suci yang indah dan menenangkan. Dengan demikian, kreativitas dan kemampuan konsentrasi bayi juga lebih terlatih.
  • Mempengaruhi psikologi
Al-Quran dapat membuat suasana lebih damai, meredakan ketegangan pada saraf otak, menghilangkan kegelisahan, menghalau rasa takut dan menguatkan kepribadian.
  • Meningkatkan kemampuan berbahasa
Bayi yang dikenalkan dengan bahasa sejak dini akan terlatih dan terbiasa mengenal bahasa, sehingga saat ia mulai belajar berbahasa ia tidak akan kesulitan.
Begitu besar manfaat lantunan Al-Quran untuk janin. Tapi, tak hanya manfaat diatas saja yang bisa dipetik. Masih banyak manfaat lain yang mungkin tidak kita sadari. Nah, lantas bacaan apa saja yang baik untuk janin kita? Berikut ayat-ayat Al-Quran yang bisa menjadi bahan bacaan saat anda sedang mengandung:
  • Surat Al-Fatihah
Surat Al-Fatihah dapat berguna untuk memberikan ketenangan hati dan menguatkan daya ingat.
 surat alfatihah
Bagi anda yang ini memperdengarkan murrtotal Al-Fatehah, anda bisa klik link ini.
  • Surat Yusuf
Banyak orang percaya dengan membaca surat Yusuf saat hamil, bayi bisa setampan Nabi Yusuf, as. namun, yang lebih penting anak kita bisa berakhlak mulia seperti Nabi Yusuf. Anda bisa membaca seluruh surat Yusuf selama masa hamil.
Anda juga bisa memperdengarkan ayat suci Al-Qur’an dengan cara mendownload surat Yusuf. Surat Yusuf bacaan Skeih Mishary al afasy bisa di dengarkan disini.
  • Surat Maryam
Surat Maryam dipercaya dapat memperlancar persalinan yang akan dihadapi nanti. Selain itu, surat ini juga dapat melahirkan anak yang sabar dan selalu taat. Dengarkan surat Maryam disini.
  • Surat Yaasin
Surat Yaasin merupakan surat yang sering dilafalkan umat Islam. Surat ini dapat memberikan ketenangan dan menghindarkan diri dari godaan syaitan yang terkutuk. Dengan membaca srat ini, anda dapat melindungi anak anda agar tidak tergoda berbuat maksiat.
Bagi anda yang ingin mendengarkan murrotal surat Yaasin, bisa mengunjungi link berikut ini.
  • Surat Luqman
Surat Lukman merupakan doa agar dikaruniai anak yang memiliki akhlak mulia dan jiwa yang bersih. Dengarkan surat Luqman disini.
  • Surat At-Taubah
Surat ini dapat memelihara jiwa kita uuntuk tetap dijalan yang lurus dan menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Dengarkan surat At-Taubah disini.
  • Surat Hujurat
Nah, ini juga penting. Surat ini dapat memperlancar produksi ASI ibu lho. Selain itu, anak kita dapat tumbuh menjadi anak yang lebih berhati-hati. Dengarkan surat Hujurat disini.

  • Surat An-Nahl ayat 78
Ayat suci Al-Quran dalam surat An-Nahl ayat 78 berisi tentang kelahiran manusia dan tugasnya dibumi sebagai khalifah. Surat ini diturunkan agar manusia selalu bersyukur dengan keadaaan yang telah Allah rahmatkan.

Sabtu, 11 Februari 2017

Makanan Sehat Ibu Hamil yang Dianjurkan Nabi

Ibu hamil memerlukan nutrisi makanan yang kaya akan gizi dan cukup serat.  Kualiats gizi yang baik dan makanan yang berserat akan membantu untuk menjaga stamina selama menjalani masa kehamilan.  Sehingga tak sedikit para bunda hamil yang banyak mencari informasi mengenai makanan yang sebaiknya dikonsumsi agar bayi yang dikandungnya bisa tumbuh sehat dan cerdas.  Karena para bunda berharap anak yang dikandungnya terlahir dengan kondisi sehat, normal, putih, dan bersih.

Hal yang menjadi adat kebiasaan sehari-hari para ibu hamil adalah mengikuti petunjuk para orang tua tentang makanan sehat yang harus dikonsumsinya maupun makanan yang harus menjadi pantangannya.  Memang dari beberapa saran orang tua ada benarnya namun sebagian juga ada yang terlihat berlebihan.  Hal tersebut tidaklah salah dikarenakan memang pengalaman orang tua yang cukup banyak dan tidak ada salahnya untuk diikuti selama tidak bertentangan dengan ilmu medis maupun aturan agama.

Dalam Islam sendiri juga banyak dianjurkan agar para ibu hamil banyak mengkonsumsi makanan sehat agar kesehatan ibu dan bayi tetap terjaga.  Dalam Hadits-hadits Nabi banyak disampaikan makanan sehat yang sebaiknya dijadikan makanan tambahan untuk membentuk bayi yang sehat, cerdas, putih dan kuat.  Buah-buahan segar merupakan makanan yang juga dianjurkan agar kebutuhan vitamin dan serat tetap terpenuhi.  Beberapa makanan yang sebaiknya dikonsumsi antara lain buah kelapa, luban, buah kurma segar dan semangka.

Berikut ini adalah dasar atau landasan untuk mengkonsumsi makanan sehat untuk para ibu hamil

1. Buah kelapa segar

“Ibu yang sedang hamil hendaknya makan buah kelapa karena ia dapat menjadikan bau anaknya menjadi harum dan warna kulitnya bersih.” Hadits ini bersumber dari Muhammad bin Ya’qub (Al-Wasail 15: 133, hadits ke-1)

Dalam Hadits yang lain disebutkan

Rasulullah saw bersabda:
“Berilah makanan istrimu yang sedang hamil buah kelapa, karena ia dapat menjadi sebab anakmu berakhlak baik.” Hadits ini bersumber dari Sayyid Ar-Rawandi (Mustadrak Al-Wasail 2: 619, hadis ke-2)

Rasululah saw bersabda:
“Aroma para nabi aroma buah kelapa, aroma bidadari, aroma âs (sejenis bunga berwarna putih berbau harum), aroma malaikat, aroma bunga mawar. Dan aroma puteriku Fatimah Az-Zahra’ adalah aroma buah kelapa, âs dan bunga mawar. Allah tidak mengutus seorang nabi dan washinya kecuali pada terdapat bau kelapa. Berilah makanan buah kelapa isterimu yang sedang hamil, agar aroma anakmu harum.” (Mustadrak Al-Wasail 2: 619, hadis ke-1)

Di Indonesia buah kelapa bukanlah hal yang sulit untuk didapat.  Buah kelapa ini sangat cocok untuk diberikan kepada ibu yang sedang menjalani masa kehamilan.  Selain air kelapanya yang segar, daging kelapanya juga sangat enak untuk dikonsumsi.  Untuk khasiat buah kelapa sendiri dapat dilihat dari hadits-hadits di atas.

Di dalam air Kelapa tua terdapat sekitar 91% mineral, 0,3% protein, 0,15% lemak, 7,3% karbohidrat dan 1,06% abu. Selain itu air Kelapa juga mengandung vitamin C sebesar 2,7 mg/ 100 ml. Sedangkan kandungan mineral air Kelapa terdiri atas kalium, natrium, kalsium, magnesium, tembaga, besi.  Selain itu kelapa juga banyak mengandung VCO yang sangat baik untuk kesehatan.

2. Luban

Rasulullah saw bersabda:
“Berilah minuman dari Luban isterimu yang sedang hamil, karena ia dapat menambah kecerdasan akal anakmu.” Hadits ini bersumber dari Abul Abbas Al-Mustaghfiri dalam kitab Thibbun Nabi saw dikutip oleh Mustadrak Al-Wasail 2: 619, hadis 1.

Rasulullah saw bersabda:
“Berilah makanan dari Luban isterimu yang sedang hamil, karena jika bayimu dalam perut ibunya diberi makanan dari Luban ia dapat menambah kecerdasan akalnya. Jika ia laki-laki akan menjadi orang yang pemberani, dan jika perempuan pinggulnya akan besar sehingga kelak menjadi bagian yang baik bagi suaminya.” Hadis ini bersumber dari Sufyan Ats-Tsauri dari Abu Ziyad dai Imam Hasan bin Ali. (Al-Wasail 15: 136, hadits ke 1).

Imam Ali Ar-Ridha berkata:
“Berilah makanan dari Luban isterimu yang sedang hamil. Jika bayi dalam perut isterimu laki-laki ia akan menjadi orang yang alim dan pemberani. Jika perempuan ia akan bagus fisiknya dan besar pinggulnya sehingga kelak menjadi bagian yang baik bagi suaminya.” Hadtss ini bersumber dari Muhammad bin Ya’qub (Al-Wasail 15: 136, hadis ke 2)

Melihat manfaat dari luban maka luban bisa dikonsumsi agar membantu anak yang dikandung lebih cerdas. Luban akan mudah ditemui di negara oman, yaman dan somalia. Untuk di Indonesia luban memang jarang untuk kita temui dan pohonnya juga hampir tidak ada yang menanamnya.  Bagi bunda yang mau mencoba luban maka dapat mencarinya di toko-toko online.

3. Buah kurma segar

Imam Abul Hasan berkata:
“Tahukah kamu bayi yang dikandung oleh Siti Maryam?” Aku menjawab: Tidak. Beliau berkata: “Ia berasal dari buah kurma yang segar yang dikirim oleh Jibril.” Hadits ini bersumber dari Sulaiman Al-Ju’fi. (Mustadrak Al-Wasail 2: 619)

Imam Ali bin Abi Thalib berkata:
“Tidak ada makanan dan obat yang dimakan oleh perempuan yang sedang hamil lebih utama dari buah kurma yang segar (rathab),
karena Allah azza wa jalla berfirman kepada Siti Maryam:
"Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu" (QS. Maryam: 25-26).
Hadits ini bersumber dari Imam Ja’far Ash-Shadiq. (Mustadrak Al-Wasail 2: 619, hadits ke 3)

"Diceritakan oleh Jumaah bin Abdullah yang disampaikan oleh Marwan yang mendapat berita daripada Ibnu Hashim bahawa Amir bin Saad mendengar bapaknya meriwayatkan Rasulullah Sallallahu alaihi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang makan 7 biji tamar ajwah dia akan terkawal daripada kejutan syaitan dan sihir pada hari itu".

Buah kurma kaya akan gizi dan vitamin.  Kandungan buah kurma antara lain zat besi, kalsium, fosforus, sodium, potasium, vitamin A dan C.  Kandungan gizi yang ada dalam buah kurma sangat cocok untuk dikonsumsi para ibu hamil sebagai buah-buahan yang menyehatkan.  Di Indonesia sendiri buah kurma mudah untuk kita temui dan kita dapatkan.  Terutama di bulan Ramadhan, buah kurma ini bertebaran dimana-mana bahkan mall pun banyak yang menyediakannya.

4. Buah Semangka
Rasulullah saw bersabda:
“Tidak ada seorang perempuan hamil yang makan buah semangka, kecuali anak yang dilahirkan olehnya wajah dan fisiknya bagus.” (Hadits ini bersumber dari Abul Abbas Al-Mustaghfiri dalam kitab Thibbun Nabi dikutip oleh Mustadrak Al-Wasail 2: 619)

Buah semangka sangat mudah kita dapatkan.  Buah semangka sendiri memiliki kandungan air sekitar 90 persen dari berat semangka tersebut.

Beberapa manfaat buah semangka untuk bunda hamil antara lain

a. Mengurangi rasa mual selama masa kehamilan
b. Kandungan airnya yang tinggi maka semangka bisa dijadikan sebagai penambah cairan tubuh agar kondisi tubuh tetap bugar.
c. Buah semangka bisa mencegah kram otot yang biasanya dialami para ibu hamil.
d. Mengurangi resiko preclampsia pada ibu hamil
e. Nutrisi bayi khususnya otak, penglihatan, otot dan sistem imunitas dan syaraf pada bayi yang sedang dikandung.

Buah-buahan segar adalah salah satu kebutuhan untuk para ibu hamil agar kesehatan selama menjalani kehamilan tetap fit.  Dengan ilmu dan landasan yang kuat maka akan menambah keyakinan para bunda untuk tetap mengkonsumsi makanan sehat sesuai anjuran Rasulullah.  Mengingat saat ini banyaknya aneka makanan instan yang beredar ditengah-tengah masyarakat.  Resiko kelahiran anak lahir tidak normal dapat diminimalkan dengan makan makanan segar dan alami.  Berhati-hatilah dalam memilih makanan dan jangan tertarik dengan buah-buahan yang berharga murah tanpa jaminan mutu yang baik.

Adapula hukum yang mengatur ibu hamil dalam berpuasa menurut  dalil yang termuat dalam (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan), selengkapnya baca artikel tentang Berpuasa Disaat Hamil dan Menyusui

Kamis, 09 Februari 2017

Berpuasa Disaat Hamil dan Menyusui

Jika wanita hamil takut terhadap janin yang berada dalam kandungannya dan wanita menyusui takut terhadap bayi yang dia sapih karena sebab keduanya berpuasa, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa. Hal ini disepakati oleh para ulama. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil dan wanita menyusui.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Namun apakah mereka memiliki kewajiban qodho ‘ ataukah fidyah? Dalam masalah ini ada lima pendapat.

Pendapat pertama: wajib mengqodho’ puasa dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad. Namun menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, jika wanita hamil dan menyusui takut sesuatu membahayakan dirinya (bukan anaknya), maka wajib baginya mengqodho’ puasa saja karena keduanya disamakan seperti orang sakit.

Pendapat kedua: cukup mengqodho’ saja. Inilah pendapat Al Auza’i, Ats Tsauriy, Abu Hanifah dan murid-muridnya, Abu Tsaur dan Abu ‘Ubaid.

Pendapat ketiga: cukup memberi makan kepada orang miskin tanpa mengqodho’. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu ‘Umar, Ishaq, dan Syaikh Al Albani.

Pendapat keempat: mengqodho’ bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Malik dan ulama Syafi’iyah.

Pendapat kelima: tidak mengqodho’ dan tidak pula memberi makan kepada orang miskin. Inilah pendapat Ibnu Hazm.

Pendapat yang terkuat adalah pendapat ketiga yang mengatakan bahwa cukup dengan fidyah yaitu memberi makan kepada orang miskin tanpa mengqodho’.

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

رخص للشيخ الكبير والعجوز الكبيرة في ذلك وهما يطيقان الصوم أن يفطرا إن شاءا ويطعما كل يوم مسكينا ولا قضاء عليهما ثم نسخ ذلك في هذه الاية : ( فمن شهد منكم الشهر فليصمه ) وثبت للشيخ الكبير والعجوز الكبيرة لذا كانا لا يطيقان الصوم والحبلى والمرضع إذا خافتا أفطرتا وأطعمتا كل يوم مسكينا

“Keringanan dalam hal ini adalah bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta dan mereka mampu berpuasa. Mereka berdua berbuka jika mereka mau dan memberi makan kepada orang miskin setiap hari yang ditinggalkan, pada saat ini tidak ada qodho’ bagi mereka. Kemudian hal ini dihapus dengan ayat (yang artinya): “Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. Namun hukum fidyah ini masih tetap ada bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta jika mereka tidak mampu berpuasa. Kemudian bagi wanita hamil dan menyusui jika khawatir mendapat bahaya, maka dia boleh berbuka (tidak berpuasa) dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.”  (Dikeluarkan oleh Ibnul Jarud dalam Al Muntaqho dan Al Baihaqi. Lihat Irwa’ul Gholil 4/18)

Dalam perkataan lainnya, Ibnu ‘Abbas menyamakan wanita hamil dan menyusui dengan tua renta yaitu sama dalam membayar fidyah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau dulu pernah menyuruh wanita hamil untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Beliau mengatakan,

أنت بمنزلة الكبير لا يطيق الصيام ، فأفطري وأطعمي عن كل يوم نصف صاع من حنطة

“Engkau seperti orang tua yang tidak mampu berpuasa, maka berbukalah dan berilah makan kepada orang miskin setengah sho’ gandum untuk setiap hari yang ditinggalkan.” (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq dengan sanad yang shahih)

Begitu pula hal yang sama dilakukan oleh Ibnu ‘Umar. Dari Nafi’, dia berkata,

كانت بنت لابن عمر تحت رجل من قريش وكانت حاملا فأصابها عطش في رمضان فأمرها إبن عمر أن تفطر وتطعم عن كل يوم مسكينا

“Putri Ibnu Umar yang menikah dengan orang Quraisy sedang hamil. Ketika berpuasa di bulan Ramadhan, dia merasa  kehausan. Kemudian Ibnu ‘Umar memerintahkan putrinya tersebut untuk berbuka dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.” (Lihat Irwa’ul Gholil, 4/20. Sanadnya shahih)

Tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar ini. Juga dapat kita katakan bahwa hadits Ibnu ‘Abbas yang membicarakan surat Al Baqarah ayat 185 dihukumi marfu’ (sebagai sabda Nabi shallallallahu ‘alaihi wa sallam). Alasannya, karena ini adalah perkataan sahabat tentang tafsir yang berkaitan dengan sababun nuzul (sebab turunnya surat Al Baqarah ayat 185). Maka hadits ini dihukumi sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sudah dikenal dalam ilmu mustholah. Wallahu a’lam.

Cara menunaikan fidyah

Adapun ukuran fidyah adalah setengah sho’ kurma, gandum atau beras sebagaimana yang biasa dimakan oleh keluarganya (Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts wal Ifta’ no. 2772, 2503, 2689). Sedangkan ukuran satu sho’ adalah sekitar 2,5 atau 3 kg. Jika kita ambil satu sho’ adalah 3 kg (untuk kehati-hatian) berarti ukuran fidyah adalah sekitar 1,5 kg. Cara menunaikannya adalah:

Pertama, memberi makanan pokok tadi kepada orang miskin. Misalnya memiliki utang puasa selama 7 hari. Maka caranya adalah tujuh orang miskin masing-masing diberi 1,5 kg beras.

Kedua, membuat suatu hidangan makanan seukuran fidyah yang menjadi tanggungannya. Setelah itu orang-orang miskin diundang dan diberi makan hingga kenyang. Misalnya memiliki 10 hari utang puasa. Maka caranya adalah sepuluh orang miskin diundang dan diberi makanan hingga kenyang. Bahkan lebih bagus lagi jika ditambahkan daging, dll. (Penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Majelis Syahri Ramadhan dan beberapa fatwa beliau)

Catatan: Tidak sah membayar fidyah di sini dengan uang. Adapun waktu pembayaran fidyah adalah pada hari itu ketika tidak melaksanakan puasa. Atau boleh juga diakhirkan hingga akhir bulan Ramadhan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas bin Malik. Dan tidak boleh pembayaran fidyah ini dilakukan sebelum Ramadhan.

Selasa, 07 Februari 2017

Dzikir dan do’a yang dibaca ketika wanita hamil merasa sakit, sedih atau gundah.


Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha ia berkata bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ya Allah, sehatkan (selamatkan) badanku, dan sehatkan (selamatkan) penglihatanku, dan jadikanlah ia warisanku (sehatkan hingga aku mati). Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Maha Penyantun dan Dermawan. Mahasuci Allah, Rabb ‘Arsy yang agung. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam”.
Diriwayatkan dari ‘Ustman bin ‘Abil ‘Ash ats-Tsaqafi bahwa ia mengadukan sakitnya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang ia derita di badannya sejak ia masuk Islam. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Letakkan tanganmu pada tubuhmu yang terasa sakit, dan bacalah: ‘Bismillah tiga kali, lalu bacalah tujuh kali:

‘A’uudzu billaahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan sesuatu yang aku dapati dan aku takuti).”


Diriwayatkan dari Anas radhiyaallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali Engkau-lah yang membuatnya mudah, dan Engkau-lah yang membuat kesedihan menjadi mudah, apabila Engkau menghendakinya.”


Berdo’a dengan al-Ismul A’zham. Masih di dalam Shahiih Ibni Hibban, dari hadits Anas bin Malik, bahwa ia sedang duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada seorang laki-laki yang sedang shalat. Kemudia ia berdo’a:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu, (dengan bersaksi) bahwa sesungguhnya hanya bagi-Mu segala puji. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi Kenikmatan, Yang mengciptakan langit dan bumi. Wahai Yang memiliki keagungan dan kemuliaan, Yang Mahahidup, Yang berdiri sendiri, tidak memerlukan makhluk. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu.”


Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguhm ia telah berdo’a dengan Nama-Nya yang agung (al-Ismul A’zham), yang apabila Dia diseru dengannya maka Dia akan mengabulkan, dan jika Dia diminta dengannya maka Dia akan memberi.”


Ini adalah do’a penawar duka citra dan kesedihan menjadi kelapangan dan kegembiraan. Diriwayatkan dalam al-Musnad karya  Imam Ahmad, dari hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi  wa sallam bersabda:
“Tidaklah seseorangditimpa duka cita dan kesedihan lalu mengucapkan: Allaahumma innii ‘abduka wabnu ‘abdika wabnu amatika naashiyatii biyadika maa dhinfiyya hukmuka ‘adlun fiyya qodoouka, as aluka bikulli ismin huwa laka sammayta bihi nafsaka, ‘allamtahu ahadan min kholqika, au andzaltahu fii kitaabika, awista tsarta bihi fii ‘ilmil ghoybi ‘indaka, an taj’alal qur aaana robiia qolbii wa nuuro shodrii wi jala’a huzhnii wa dzahaabba hammii (‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu dan anak dari hamba-Mu.
Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Berlaku padaku keputusan-Mu. Ketentuan-Mu padaku adalah adil. Aku mohon kepada-Mu dengan Nama yang Engkau gunakan untuk menamai  Engkau sendiri, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau pilih dalam ilmu ghaib di sisi-Mu; bahwa Engkau jadikan al-Qur’an sebagai penggembira hatiku, cahaya dadaku, pengusir kesedihanku dan penghilang duka citaku.’) kecuali Allah akan menghilangkan kesedihan dan duka citanya, lalu diganti dengan kelapangan.”


Dan berikut ini do’a ketika ditimpa penderitaan yang berat (du’aa-ul Karbi):
‘Laa ilaaha illallaahul ‘adziimul haliim laa ilaaha illallaahu robbul ‘arsyil adhiim.’
“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Mahaagung lagi Maha Penyantun. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Rabb ‘Arsy yang agung.”
Disadur dari Buku “Do’a dan Dzikir untuk Ibu Hamil” oleh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, terbitan Pustaka Ibnu ‘Umar.

Catatan Kaki :

  1. HR. at-Tirmidzi (no. 3402, al-Maktabah asy-Syaamilah), ia berkata, “Hadits hasan gharib.”
  2. HR. Muslim (no. 4082, al-Maltabah asy-Syaamilah)
  3. HR. Ibnu HIbban dalam Shahiih-nya (no. 979, al-Maktabah asy-Syaamilah). Dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahiihah (no. 2886, al-Maktabah asy-Syaamilah).
  4. HR. Ibnu Hibban dalam Shahiih-nya (no. 979, al-Maktabah asy-Syaamilah). Dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahiihah (no. 2886, al-Maktabah asy-Syaamilah).
  5. Al-‘Abdu adalah hamba sahaya laki-laki, sedangkan al-Amatu adalah hamba sahaya perempuan. Yang dimaksudkan di sini adalah anak dari kedua orang tua, yang kedua-duanya adalah hamba Allah.
  6. As-Silsilah ash-Shahiihah (I/337).
  7. HR. Al-Bukhari (no. 5869, al-Maktabah as-Syaamilah).

Minggu, 05 Februari 2017

Hadits Tentang Hukum Menikahi Wanita Hamil di Luar Nikah

Hadistislam.com - Hukum Menikahi Perempuan Hamil di Luar Nikah, Hukum Menikahi Wanita Hamil Akibat Zina, Menikahi wanita yang sedang dalam keadaan hamil hukumnya ada dua. Yang pertama, hukumnya haram. Yang kedua, hukumnya boleh. Yang hukumnya haram adalah apabila yang menikahi bukan orang yang menghamili. Wanita itu dihamili oleh A, sedangkan yang menikahinya B. Hukumnya haram sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dia menuangkan air (maninya) padatanaman orang lain. (HR Abu Daud)

Yang dimaksud dengan tanaman orang lain maksudnya haram melakukan persetubuhan dengan wanita yang sudah dihamili orang lain. Baik hamilnya karena zina atau pun karena hubungan suami isteri yang sah. Pendeknya, bila seorang wanita sedang hamil, maka haram untuk disetubuhi oleh laki-laki lain, kecuali laki-laki yang menyetubuhinya.

Bagaimana Hukum Menikahi Wanita Hamil? Dari dalil di atas kita mendapatkan hukum yang kedua, yaitu yang hukumnya boleh. Yaitu wanita hamil karena zina dinikahi oleh pasangan zina yang menghamilinya. Hukumnya boleh dan tidak dilarang.

A. Menikahi Wanita Hamil

Maka seorang laki-laki menikahi pasangan zinanya yang terlanjur hamil dibolehkan, asalkan yang menyetubuhinya (mengawininya) adalah benar-benar dirinya sebagai laki-laki yang menghamilinya, bukan orang lain.

B. Perbedaan Pendapat Tentang Kebolehan Menikahinya


Memang ada sebagian pendapat yang mengharamkan menikahi wanita yang pernah dizinainya sendiri dengan berdalil kepada ayat Al-Quran Al-Kariem berikut ini:

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu'min. (QS. An-Nur: 3)

Namun kalau kita teliti, rupanya yang mengharamkan hanya sebagian kecil saja. Selebihnya, mayoritas para ulama membolehkan.

1. Pendapat Jumhur (mayoritas) ulama

Jumhurul fuqaha' (mayoritas ahli fiqih) mengatakan bahwa yang dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan untuk menikahi wanita yang pernah berzina. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yang pezina sekalipun. Lalu bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu?

Para fuqaha memiliki tiga alasan dalam hal ini.
  • Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz 'hurrima' atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci).
  • Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan, maka lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan.
  • Mereka mengatakan bahwa ayat itu telah dibatalkan ketentuan hukumnya (dinasakh) dengan ayat lainnya yaitu:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui.(QS. An-Nur: 32).

Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhuma. Mereka membolehkan seseorang untuk menikahi wanita pezina. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah.

Pendapat mereka ini dikuatkan dengan hadits berikut:

Dari Aisyah ra berkata, "Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda, "Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal." (HR Tabarany dan Daruquthuny).

Dan hadits berikut ini:

Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Isteriku ini seorang yang suka berzina." Beliau menjawab, "Ceraikan dia!." "Tapi aku takut memberatkan diriku." "Kalau begitu mut'ahilah dia." (HR Abu Daud dan An-Nasa'i)

Selain itu juga ada hadits berikut ini
Dimasa lalu seorang bertanya kepada Ibnu Abbas ra, "Aku melakukan zina dengan seorang wanita, lalu aku diberikan rizki Allah dengan bertaubat. Setelah itu aku ingin menikahinya, namun orang-orang berkata (sambil menyitir ayat Allah), "Seorang pezina tidak menikah kecuali dengan pezina juga atau dengan musyrik'. Lalu Ibnu Abbas berkata, "Ayat itu bukan untuk kasus itu. Nikahilah dia, bila ada dosa maka aku yang menanggungnya." (HR Ibnu Hibban dan Abu Hatim)

Ibnu Umar ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang wanita, bolehkan setelah itu menikahinya? Ibnu Umar menjawab, "Ya, bila keduanya bertaubat dan memperbaiki diri."

2. Pendapat Yang Mengharamkan

Sebagian kecil ulama ada yang berpendapat untuk mengharamkan tindakan menikahi wanita yang pernah dizinainya sendiri. Paling tidak tercatat ada Aisyah, Ali bin Abi Thalib, Al-Barra' dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhum ajmain.

Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. Begitu juga seorang wanita yang pernah berzina dengan laki-laki lain, maka dia diharamkan untuk dinikahi oleh laki-laki yang baik (bukan pezina).

Bahkan Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa bila seorang isteri berzina, maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Begitu juga bila yang berzina adalah pihak suami. Tentu saja dalil mereka adalah zahir ayat yang kami sebutkan di atas (aN-Nur: 3).

Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts, yaitu orang yang tidak punya rasa cemburu bila isterinya serong dan tetap menjadikannya sebagai isteri.

Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts." (HR Abu Daud)

Di antara tokoh di zaman sekarang yang ikut mengharamkan adalah Syeikh Al-Utsaimin rahmahullah.

3. Pendapat Pertengahan

Sedangkan pendapat yang pertengahan adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau mengharamkan seseorang menikah dengan wanita yang masih suka berzina dan belum bertaubat. Kalaupun mereka menikah, maka nikahnya tidak syah.

Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya dan bertaubat, maka tidak ada larangan untuk menikahinya. Dan bila mereka menikah, maka nikahnya syah secara syar'i.

Nampaknya pendapat ini agak menengah dan sesuai dengan asas prikemanusiaan. Karena seseorang yang sudah bertaubat berhak untuk bisa hidup normal dan mendapatkan pasangan yang baik.

Lalu, karena penegakan syariah dan hukum hudud hanya bisa dilakukan oleh ulil amri (pemerintah) maka hukum rajam, cambuk, dan yang lain belum bisa dilakukan. Sebagai gantinya, tobat dari zina bisa dengan penyesalan, meninggalkan perbuatan tersebut, dan bertekad untuk tidak mengulangi.

Dan hukum pernikahan di antara mereka sudah sah, asalkan telah terpenuhi syarat dan rukunnya. Harus ada ijab qabul yang dilakukan oleh suami dengan ayah kandung si wanita disertai keberadaan 2 orang saksi laki-laki yang akil, baligh, merdeka, dan 'adil.

Tidak Perlu Diulang

Kalau kita mengunakan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan pernikahan mereka sah, maka karena akad nikah mereka sudah sah, sebenarnya tidak ada lagi keharusan untuk mengulangi akad nikah setelah bayinya lahir. Karena pada hakikatnya pernikahan mereka sudah sah. Tidak perlu lagi ada pernikahan ulang.

Buat apa diulang kalau pernikahan mereka sudah sah. Dan sejak mereka menikah, tentunya mereka telah melakukan hubungan suami isteri secara sah. Hukumnya bukan zina.

Status Anak
Adapun masalah status anak, menurut sebagian ulama, jika anak ini lahir 6 bulan setelah akad nikah, maka si anak secara otomatis sah dinasabkan pada ayahnya tanpa harus ada ikrar tersendiri.

Namun jika si jabang bayi lahir sebelum bulan keenam setelah pernikahan, maka ayahnyadipandang perlu untuk melakukan ikrar, yaitu menyatakan secara tegas bahwa si anak memang benar-benar dari darah dagingnya. Itu saja bedanya.

Bila seorang wanita yang pernah berzina itu akan menikah dengan orang lain, harus dilakukan proses istibra', yaitu menunggu kepastian apakah ada janin dalam perutnya atau tidak. Masa istibra' itu menurut para ulama adalah 6 bulan. Bila dalam masa 6 bulan itu memang bisa dipastikan tidak ada janin, baru boleh dia menikah dengan orang lain.

Sedangkan bila menikah dengan laki-laki yang menzinahinya, tidak perlu dilakukan istibra' karena kalaupun ada janin dalam perutnya, sudah bisa dipastikan bahwa janin itu anak dari orang yang menzinahinya yang kini sudah resmi menjadi suami ibunya.

Jumat, 03 Februari 2017

Hal-Hal Penting Bagi Wanita Hamil Berkaitan dengan Masalah Do’a dan Dzikir

Hal-Hal Penting Bagi Wanita Hamil Berkaitan dengan Masalah Do’a dan Dzikir

  1. Jangan malas berdo’a
Gemarlah untuk berdo’a di setiap waktu dan kesempatan, baik ketika berdiri, duduk, maupun ketika berbaring.
“Dan Rabb-mu berfirman: ‘ Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku1 akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’”. (QS. Ghaafir: 60)

  1. Berdo’alah dengan memperhatikan adab-adabnya
Adab-adab berdo’a telah banyak dijelaskan di dalam banyak buku, dengan demikian, maka do’a Anda akan lebih dekat untuk dikabulkan. Di antaranya: ikhlas, yakin, perlahan, dan tidak berlebihan. Allah Ta’ala berfirman:
“Berdoalah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.2” (QS. Al-A’raaf: 55)

  1. Dibolehkan berdo’a agar dikaruniai seorang anak dengan jenis kelamin tertentu
Meskipun ia telah mengetahui (dari USG yang dilakukan dokter di laboratorium) bahwa jenis kelamin janin yang dikandungnya tersebut tidak sesuai dengan yang ia harapkan, namun tidak ada halangan baginya untuk berdoa agar diberi rizki seorang anak dengan jenis kelamin yang ia inginkan. Karena boleh jadi keinginannya itu akan dikabulkan pada kehamilan berikutnya, tidak pada kehamilan yang ini. Akan tetapi yang lebih penting dan utama dari itu adalah ridha kepada Allah Ta’ala atas segala takdir-Nya. Dan yakinlah bahwa hal itu pasti merupakan pilihan Allah yang terbaik baginya. Janganlah minta kepada Allah Ta’ala agar mengubah jenis kelamin janinnya, karena jika demikian ia termasuk berlebihan dalam meminta kepada Allah. Dan jangan bermuka masam apabila dilahirkan baginya seorang anak dengan jenis kelamin yang tidak ia inginkan.

  1. Lebih baik ia berdo’a agar dikaruniai anak yang shalih dan shalihah
Hal tersebut seperti doa Nabi Zakariya ‘alaihisalaam:
“Wahai Rabb-ku berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.” (QS. Ali-‘Imran: 38)
Atau do’a ibaadur rahmaan (hamba Allah Yang Maha Pemurah):

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqaan: 74)

Dan banyak do’a lainnya dari al-Qur’an maupun al-Hadits
Tidak mengapa memohon dikaruniai anak yang tampan, cantik, dan lain-lain, selama untuk kebaikan dunia dan akhirat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hendaklah salah seorang dari kalian meminta keperluannya kepada Rabb-nya, hingga tali sandalnya apabila putus.”3

  1. Tetaplah untuk bersabar
Bahkan tidak cukup dengan sabar, akan tetapi kesabaran itu harus dikuatkan. Bahkan sertailah dengan kewaspadaan. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 200)

  1. Iringi do’a dengan ikhtiar untuk berobat
Janganlah berputus asa untuk selalu berobat. Dan jangan memperlambat pengobatan. Jangan berangan-angan ingin mati saja, sekronis apa pun penyakit yang Anda derita. Ingat bahwa setiap penyakit ada obatnya, sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat penyakit itu tepat dengan penyakitnya, maka penyakit itu akan sembuh dengan izin allah ‘Azza wa Jalla.”4

  1. Sertailah do’a dengan optimism, berprasangka baik kepada Allah Ta’ala
Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam hadits Qudsi:
“Aku tergantung prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku berserta dia, jika dia mengingat-Ku.’”5

  1. Semoga Anda disembuhkan dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit
Namun apabila sedikit sekali harapan untuk sembuh, jangan berdo’a untuk meminta kematian, kecuali dengan menyandarkannya pada kebaikan.
Perhatikan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam bersabda:
“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian mengangan-angankan mati disebabkan penderitaan yang menimpanya. Namun, apabila tidak boleh tidak, ia harus melakukannya, maka ucapkanlah: “Allahumma ahyinii maa kaanatil hayaatu khairan lii. Wa tawaffanii idzaa kaanatil wafaatu khairan lii (Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupa itu lebih baik bagiku. Dan wafatkanlah aku selama kematian itu lebih baik bagiku).”6

Disadur dari buku “Do’a dan Dzikir untuk Ibu Hamil” oleh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, terbitan pustaka Ibnu ‘Umar.

Catatan Kaki:
  1. Yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdo’a kepadaKu.
  2. Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta.
  3. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahumahullah dalam al-Misykaah (no. 2551, al-Maktabah asy-Syaamilah)
  4. HR Muslim (no. 4084, al-Maktabah asy-Syaamilah)
  5. HR Muslim (no. 6856, al-Maktabah asy-Syaamilah)
  6. HR Al-Bukhari (no. 5239, al-Maktabah asy-Syaamilah)

Rabu, 01 Februari 2017

Keutamaan Wanita Yang Sedang Hamil

Subhanallah, sungguh Allah memberikan keutamaan bagi seorang wanita khususnya seorang ibu. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam “Ya, Rasulullah, siapakah yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab “Ibumu” Dia bertanya kembali: “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya kembali: “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya kembali: “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Secara medis, wanita diberi kelebihan memiliki rahim, sehingga dapat mengandung serta melahirkan anak. Wanita juga dilengkapi dengan berbagai fitur tubuh yang memang dibutuhkan untuk perlindungan dan pemenuhan kebutuhan seorang anak. Misalnya, bayi yang baru lahir bisa mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan tubuhnya karena Ibu memiliki kelenjar payudara yang mampu menyediakan ASI sebagai sumber makanan bagi bayi.

Sayang, ada saja wanita yang tidak bersyukur bahkan menyalahi kodratnya sebagai wanita. Ada wanita yang tidak mau hamil, karena tidak ingin bentuk tubuh idealnya akan berubah karena proses kehamilan. Selain itu, ada juga wanita yang tidak mau hamil dan memiliki anak karena akan menghambat karirnya. Padahal Allah memberikan banyak keistimewaan atau keutamaan bagi wanita yang mengandung. Dilansir dari islamapos Keutamaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Shalat Wanita Hamil Lebih Utama

Shalat wanita hamil lebih utama dibanding wanita yang tidak hamil. Rasululah SAW mengatakan bahwa dua rakaat shalat wanita hamil jauh lebih baik dibanding 80 rakaat shalat yang dikerjakan oleh wanita tidak hamil. Keistimewaan ini diberikan karena wanita hamil membawa janin dalam perutnya. Tentu saja sang janin turut serta saat ibunya shalat, mendengar bacaan-bacaan shalat, serta ikut sujud bersama sang ibu beribadah kepada Allah SWT dan dalam lindungan Allah SWT.
2. Malaikat Beristigfar Untuk Wanita Hamil

Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mentaatkan baginya setiap hari dengan 1.000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1.000 kejahatan.
3. Mendapatkan Pahala Puasa Di Siang Hari dan Pahala Ibadah Di Malam Hari

Memperoleh pahala puasa di siang hari dan pahala ibadah di malam hari. Rasulullah mengatakan bahwa wanita yang sedang dalam keadaan hamil akan memperoleh pahala puasa saat siang hari serta pahala ibadah saat malam hari. Hal itu terjadi karena wanita hamil selalu membawa amanah Allah SWT ke sana kemari. Dengan demikian, sangat wajar jika wanita hamil mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah SWT.

4. Pahala Jihad Bagi Wanita Yang Akan Melakukan Persalinan

Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mentaatkan baginya setiap hari dengan 1.000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1.000 kejahatan.
5. Mati Syahid

Wanita yang meninggal dalam keadaan melahirkan, dianggap sebagai mati syahid. Rasulullah SAW bersabda, Mati Syahid itu ada tujuh, selain mati terbunuh dalam perang fii sabilillah, dan salah satunya adalah wanita yang mati karena hamil atau melahirkan.

Selasa, 31 Januari 2017

Do'a Ibu Hamil Menjelang Persalinan

Doa Ibu Hamil Menjelang Persalinan dan saat Persalinan. Doa menjelang persalinan bisa dibaca secara rutin setelah melaksanakan solat wajib, sholat sunah atau saat anda bersantai. Bagi ibu hamil muslim bisa juga dengan membaca doa-doa yang mampu memberikan ketenangan secara batin menjelang persalinan. Berikut ini ada beberapa doa Ibu Hamil yang bisa dibaca untuk melancarkan proses persalinan :

1. Doa untuk Memudahkan Melahirkan
Doa dibawah ini baik dibaca ketika menjelang persalinan, yang bisa dilakukan oleh ibu hamil dan orang yang ikut menemani saat persalinan:

 “ Hannaa Waladat Maryama Wa Maryama Waladat ‘Iisaa Ukhruj Ayyuhal Mauluudu Biqudrotil Malikil Ma’buudi “.

Artinya : “ Hana melahirkan Maryam, sedangkan Maryam telah melahirkan ‘Isa. Keluarlah (lahirlah) hai anak dengan sebab kekuasaan Raja (Allah) yang disembah “.
      
2. Doa Ibu Hamil Menjelang Persalinan di Waktu Santai
Doa dibawah ini bisa dibaca sebanyak mungkin di waktu senggang ibu hamil gan harsindo.com, sehingga perasaan ibu hamil lebih siap dalam menghadapi persalinan :

 “Robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a’yun”

Artinya : "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. 25:74)

3. Doa Setelah Bayi Diadzani
Setelah bayi lahir  kemudian diadzani, sebagai orang tua dapat membacakan doa di telinga sebelah kanan sebagai berikut :

 “Innii u’iidzuhaa bika wa dzurriyyatahaa minas syaithoonir rojiimi” Artinya : "Sesungguhnya aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk." (QS. 3:36).

Dilanjutkan dengan membaca kalimah iqomah ditelinga sebelah kiri sambil dibacakan doa berikut :

“Allaahumma baarik lanaa wa lihaadzal waladi fii hayaatihii wa thowwil ‘umrohuu bi thoo’atika Yaa arhamar Roohimiin”

Artinya : “Ya Allah, berikanlah keberkahan pada kami dan anak ini, serta panjangkan umurnya dengan senantiasa (menjalani) taat kepada-Mu wahai Dzat Yang paling menyayangi diantara yang menyayangi”.

Oke, demikianlah semoga bermanfaat yaa..

Minggu, 29 Januari 2017

Sunnah-Sunnah yang Perlu Dilakukan Untuk Ibu Hamil

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihiwa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d:

Kepada ibu yang dimuliakan Allah Ta’ala …. Semoga rahmat dan rahim-Nya menyempurnakan kebahagiaan ibu sekeluarga dan kita semua…

Sebenarnya tidak ada petunjuk khusus dan rinci dalam Al Quran dan As Sunnah untuk ibu-ibu hamil. Namun, kehamilan adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala kepada hamba-Nya dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di hadapan mereka. Oleh karena itu, mensyukuri nikmat “kehamilan” adalah bagian dari ajaran Islam.

Ada beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan selama kehamilan:

1. Bergembira atas berita kehamilan.

Ini yang mesti diingat oleh seorang muslimah yang sedang hamil (tentu dari suami yang sah).  Sebab, Allah Ta’ala mempercayakan dirinya dan suami untuk melahirkan, merawat, membesarkan, dan mendidik salah satu hamba-Nya. Baik itu kehamilan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, tetaplah bergembira. Cukup banyak wanita hanya mensyukuri kehamilan pertama atau kedua –karena ini yang dinanti-nanti- tetapi mereka nampak shock dengan kehamilan selanjutnya, apalagi kehamilan itu di luar rencana mereka. Seharusnya mereka bersyukur dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk hamil, sementara masih banyak wanita yang berjuang bertahun-tahun, belasan, bahkan sampai mereka tua belum dikaruniai anak. Lebih dari itu, ada yang sampai menghabiskan biaya besar untuk hamil, bahkan menggadaikan aqidah dengan datang ke dukun.

Bergembira atas datangnya jabang bayi telah Allah Ta’ala ajarkan dalam beberapa ayat berikut ini, ketika menceritakan lahirnya Ismail dan Ishaq untuk Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam:

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Maka Kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar (Yakni Ismail). (QS. Ash Shafat: 101)

Ayat yang lain:

إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

  “Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim (yakni Ishaq)” (QS. Al Hijr: 53)

2. Melindungi diri dan kandungan dari gangguan setan

Hendaknya seorang muslim dan muslimah, apalagi ibu hamil, tidak melupakan dzikir-dzikir ma’tsur yang memang Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ajarkan, baik yang berasal dari Al Quran seperti membaca Al Mu’awwidzaat (Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas), Al Fatihah, lima ayat awal Al Baqarah dan tiga ayat terakhirnya, juga ayat Kursi. Begitu pula doa-doa perlindungan dari nabi, seperti a’udzu bikalimaatillahi taammati min syarr maa khalaq, pagi dan petang. 

3. Jangan lupa membaca Al-Quran minimal mendengarkannya


Tidak ayat surat dan ayat khusus untuk ibu-ibu hamil dan bayi dalam kandungannya. Bacalah Al Quran pada surat apa pun dan biasakanlah hal itu sebagai pendengaran yang baik bagi jabang bayi, dan hindarilah lagu dan musik jahiliyah. Semoga hal itu menjadi budaya baik yang melekat di telinga jabang bayi yang membekas sampai dia lahir dan besar nanti.

4. Hindari kepercayaan terhadap mitos-mitos yang menodai aqidah


Biasanya, cukup banyak tahayul dan khurafat yang menyertai ibu-ibu hamil. Mereka ditakut-takuti dengan berbagai larangan dan perintah yang tidak ada dasarnya dari agama Islam, melainkan berdasarkan keyakinan tidak jelas dari mana sumbernya. Seperti larangan memasukkan bantal ke sarungnya, karena takut susah melahirkan; atau jika melihat yang jelek-jelek maka ucapkanlah “amit-amit jabang bayi” sambil mengusap perut dengan harapan agar  bayi nanti lahir tidak jelek seperti yang dilihatnya.

5. Memeriksakan kesehatan ibu dan bayi secara teratur kepada  ahlinya

Ini merupakan upaya logis dan sunnatullah yang mesti dilakukan. Tidak sekadar mengandalkan tawakal setelah dzikir dan doa, tetapi sebab-sebab kauniyah yang natural juga mesti disediakan. Larangan-larangan yang sifatnya medis, begitu pula anjurannya, hendaknya diperhatikan. Jangan sampai ibu hamil lebih percaya dengan tahayul dan khurafat, tetapi dengan hal-hal yang ilmiah justru tidak dipercaya.

6. Jika sulit melahirkan cobalah lakukan sunnahnya Ibnu Abbas dan Ali  Radhiallahu ‘Anhuma


Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:

إذا عسر على المرأة ولدها تكتب هاتين الآيتين والكلمتين في صحيفة ثم تغسل وتسقى منها، وهي: بسم الله الرحمن الرحيم لا إله إلا الله العظيم الحليم الكريم، سبحان الله رب السموات ورب الارض ورب العرش العظيم ” كأنهم يوم يرونها لم يلبثوا إلا عشية   أو ضحاها ” [ النازعات: 46 ]. ” كأنهم يوم يرون ما يوعدون لم يلبثوا إلا ساعة من نهار بلاغ فهل يهلك إلا القوم الفاسقون

“Jika seorang wanita kesulitan ketika melahirkan, maka Anda tulis dua ayat berikut secara lengkap di lembaran, kemudian masukkan ke dalam air dan kucurkan kepada dia, yaitu kalimat: Laa Ilaha Illallah Al Halimul Karim Subhanallahi Rabbil ‘Arsyil ‘Azhim Al Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin. (Tiada Ilah Kecuali Allah yang Maha Mulia, Maha Suci Allah Rabbnya Arsy Yang Agung, Segala Puji Bagi Allah Rabb Semesta Alam)

Ka’annahum yauma yaraunaha lam yalbatsu illa ‘asyiyyatan aw dhuhaha. (Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia), melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi. QS. An Nazi’at (79): 46)

Ka’annahum yauma yarauna maa yu’aduna lams yalbatsuu illa saa’atan min naharin balaagh. (Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup. QS. Al Ahqaf (46): 35) (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, 16/222. Dar Ihya’ At Turats)

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan sebagai berikut:

فَصْلٌ وَيَجُوزُ أَنْ يَكْتُبَ لِلْمُصَابِ وَغَيْرِهِ مِنْ الْمَرْضَى شَيْئًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَذِكْرُهُ بِالْمِدَادِ الْمُبَاحِ وَيُغْسَلُ وَيُسْقَى كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ أَحْمَد وَغَيْرُهُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَد : قَرَأْت عَلَى أَبِي ثِنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ ؛ ثِنَا سُفْيَانُ ؛ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ الْحَكَمِ ؛ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ؛ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : إذَا عَسِرَ عَلَى الْمَرْأَةِ وِلَادَتُهَا فَلْيَكْتُبْ : بِسْمِ اللَّهِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا } { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ } . قَالَ أَبِي : ثِنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ بِإِسْنَادِهِ بِمَعْنَاهُ وَقَالَ : يُكْتَبُ فِي إنَاءٍ نَظِيفٍ فَيُسْقَى قَالَ أَبِي : وَزَادَ فِيهِ وَكِيعٌ فَتُسْقَى وَيُنْضَحُ مَا دُونَ سُرَّتِهَا قَالَ عَبْدُ اللَّهِ : رَأَيْت أَبِي يَكْتُبُ لِلْمَرْأَةِ فِي جَامٍ أَوْ شَيْءٍ نَظِيفٍ . وَقَالَ أَبُو عَمْرٍو مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَد بْنِ حَمْدَانَ الحيري : أَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ النسوي ؛ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَد بْنِ شبوية ؛ ثِنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ ؛ ثِنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ؛ عَنْ سُفْيَانَ ؛ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى ؛ عَنْ الْحَكَمِ ؛ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ؛ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : إذَا عَسِرَ عَلَى الْمَرْأَةِ وِلَادُهَا فَلْيَكْتُبْ : بِسْمِ اللَّهِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ ؛ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ؛ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا } { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ } . قَالَ عَلِيٌّ : يُكْتَبُ فِي كاغدة فَيُعَلَّقُ عَلَى عَضُدِ الْمَرْأَةِ قَالَ عَلِيٌّ : وَقَدْ جَرَّبْنَاهُ فَلَمْ نَرَ شَيْئًا أَعْجَبَ مِنْهُ فَإِذَا وَضَعَتْ تُحِلُّهُ سَرِيعًا ثُمَّ تَجْعَلُهُ فِي خِرْقَةٍ أَوْ تُحْرِقُهُ

“Dibolehkan bagi orang yang sakit atau tertimpa lainnya, untuk dituliskan baginya sesuatu yang berasal dari Kitabullah dan Dzikrullah dengan menggunakan tinta yang dibolehkan (suci) kemudian dibasuhkan tulisan tersebut, lalu airnya diminumkan kepada si sakit, sebagaimana hal ini telah ditulis (dinashkan) oleh Imam Ahmad dan lainnya.

Abdullah bin Ahmad berkata; Aku membaca di depan bapakku: telah bercerita kepada kami Ya’la bin ‘Ubaid telah bercerita kepada kami Sufyan, dari Muh. bin Abi Laila, dari Hakam, dari Said bin Jubeir dari Ibnu Abbas ia berkata: “Jika seorang ibu sulit melahirkan maka tulislah …

بِسْمِ اللَّهِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

          “Dengan nama Allah, Tidak ada Ilah selain Dia, Yang Maha Mulia, Maha Suci Allah Rabbnya ‘Arys yang Agung, segala puji bagi Allah Rabba semesta alam.”

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

          “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An Naziat (79):46)

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

        “Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (QS. Al Ahqaf (46): 35)

Bapakku berkata: Telah menceritakan kepadaku Aswad bin ‘Amir dengan sanadnya dan dengan maknanya dan dia berkata: Ditulis di dalam bejana yang bersih kemudian diminum. Bapakku berkata: Waki’ menambahkannya: Diminum dan dipercikkan kecuali pusernya (ibu yang melahirkan), Abdullah berkata: Aku melihat bapakku menulis di gelas atau sesuatu yang bersih untuk seorang ibu (yang sulit melahirkan).

Abu Amr Muham mad bin Ahmad bin Hamdan Al Hiri berkata: Telah mengabarkan kepada kami Al Hasan bin Sufyan An Nasawi, telah bercerita kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Syibawaih telah bercerita kepadaku Ali bin Hasan bin Syaqiq, telah bercerita kepadaku Abdullah bin Mubarak, dari Sufyan dari ibnu Abi Laila, dari Al Hakam, dari Said bin Jubeir, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Jika seorang wanita sulit melahirkan maka tulislah:

(lalu disebutkan ayat-ayat seperti di atas)

Ali berkata: ditulis di atas kertas kemudian digantungkan pada anggota badan wanita (yang susah melahirkan). Ali berkata: Dan sungguh kami telah mencobanya, maka tidaklah kami melihat sesuatu yang lebih menakjubkan (hasilnya) dari padanya maka jika wanita tadi sudah melahirkan maka segeralah lepaskan, kemudian setelah itu sobeklah atau bakarlah.”(Demikian fatwa Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa, 4/187. Maktabah Syamilah)

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah menyebutkan beberapa riwayat dari kaum salaf (terdahulu) kebolehan membaca atas menuliskan ayat Al Quran pada wadah lalu airnya dipercikkan kepada orang sakit. Berikut ini ucapannya:

قَالَ الْخَلّالُ حَدّثَنِي عَبْدُ اللّهِ بْنُ أَحْمَدَ : قَالَ رَأَيْتُ أَبِي يَكْتُبُ لِلْمَرْأَةِ إذَا عَسُرَ عَلَيْهَا وِلَادَتُهَا فِي جَامٍ أَبْيَضَ أَوْ شَيْءٍ نَظِيفٍ يَكْتُبُ حَدِيثَ ابْنِ عَبّاسٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ لَا إلَهَ إلّا اللّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللّهِ رَبّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ { كَأَنّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ } [ الْأَحْقَافُ 35 ] { كَأَنّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلّا عَشِيّةً أَوْ ضُحَاهَا } [ النّازِعَاتُ 46 ] . قَالَ الْخَلّالُ أَنْبَأَنَا أَبُو بَكْرٍ الْمَرْوَزِيّ أَنّ أَبَا عَبْدِ اللّهِ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبْدِ اللّهِ تَكْتُبُ لِامْرَأَةٍ قَدْ عَسُرَ عَلَيْهَا وَلَدُهَا مُنْذُ يَوْمَيْنِ ؟ فَقَالَ قُلْ لَهُ يَجِيءُ بِجَامٍ وَاسِعٍ وَزَعْفَرَانٍ وَرَأَيْتُهُ يَكْتُبُ لِغَيْرِ وَاحِدٍ

“Berkata Al Khalal: berkata kepadaku Abdullah bin Ahmad, katanya: Aku melihat ayahku menulis untuk wanita yang sulit melahirkan di sebuah  wadah putih atau sesuatu yang bersih, dia menulis hadits Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu:

Laa Ilaha Illallah Al Halimul Karim Subhanallahi Rabbil ‘Arsyil ‘Azhim Al Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin. (Tiada Ilah Kecuali Allah yang Maha Mulia, Maha Suci Allah Rabbnya Arsy Yang Agung, Segala Puji Bagi Allah Rabb Semesta Alam)

Ka’annahum yauma yarauna maa yu’aduna lam yalbatsuu illa saa’atan min naharin balaagh. (Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup. QS. Al Ahqaf (46): 35)

Ka’annahum yauma yaraunaha lam yalbatsu illa ‘asyiyyatan aw dhuhaha. (Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia), melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi. QS. An Nazi’at (79): 46)

Al Khalal mengatakan: mengabarkan kepadaku Abu Bakar Al Marwazi, bahwa ada seseorang datang kepada  Abu Abdullah (Imam Ahmad), dan berkata: “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), kau menulis untuk wanita yang kesulitan melahirkan sejak dua hari yang lalu?” Dia menjawab: “Katakan baginya, datanglah dengan wadah yang lebar dan minyak za’faran. “ Aku melihat dia menulis untuk lebih dari satu orang. (Zaadul Ma’ad, 4/357. Muasasah Ar Risalah)

Beliau juga mengatakan:

وَرَخّصَ جَمَاعَةٌ مِنْ السّلَفِ فِي كِتَابَةِ بَعْضِ الْقُرْآنِ وَشُرْبِهِ وَجَعَلَ ذَلِكَ مِنْ الشّفَاءِ الّذِي جَعَلَ اللّه فِيهِ . كِتَابٌ آخَرُ لِذَلِكَ يُكْتَبُ فِي إنَاءٍ نَظِيفٍ { إِذَا السّمَاءُ انْشَقّتْ وَأَذِنَتْ لِرَبّهَا وَحُقّتْ وَإِذَا الْأَرْضُ مُدّتْ وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلّتْ } [ الِانْشِقَاقُ 41 ] وَتَشْرَبُ مِنْهُ الْحَامِلُ وَيُرَشّ عَلَى بَطْنِهَا .

“Segolongan kaum salaf memberikan keringanan dalam hal menuliskan sebagian dari ayat Al Quran dan meminumnya, dan menjadikannya sebagai obat yang Allah jadikan padanya. Untuk itu, dituliskan di bejana yang bersih:

“Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh, dan apabila bumi diratakan, dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al Insyiqaq (84): 1-4)

Lalu diminumkan kepada orang hamil dan diusapkan ke perutnya. (Ibid, 4/358). Demikian. Wallahu A’lam