Selasa, 31 Januari 2017

Do'a Ibu Hamil Menjelang Persalinan

Doa Ibu Hamil Menjelang Persalinan dan saat Persalinan. Doa menjelang persalinan bisa dibaca secara rutin setelah melaksanakan solat wajib, sholat sunah atau saat anda bersantai. Bagi ibu hamil muslim bisa juga dengan membaca doa-doa yang mampu memberikan ketenangan secara batin menjelang persalinan. Berikut ini ada beberapa doa Ibu Hamil yang bisa dibaca untuk melancarkan proses persalinan :

1. Doa untuk Memudahkan Melahirkan
Doa dibawah ini baik dibaca ketika menjelang persalinan, yang bisa dilakukan oleh ibu hamil dan orang yang ikut menemani saat persalinan:

 “ Hannaa Waladat Maryama Wa Maryama Waladat ‘Iisaa Ukhruj Ayyuhal Mauluudu Biqudrotil Malikil Ma’buudi “.

Artinya : “ Hana melahirkan Maryam, sedangkan Maryam telah melahirkan ‘Isa. Keluarlah (lahirlah) hai anak dengan sebab kekuasaan Raja (Allah) yang disembah “.
      
2. Doa Ibu Hamil Menjelang Persalinan di Waktu Santai
Doa dibawah ini bisa dibaca sebanyak mungkin di waktu senggang ibu hamil gan harsindo.com, sehingga perasaan ibu hamil lebih siap dalam menghadapi persalinan :

 “Robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a’yun”

Artinya : "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. 25:74)

3. Doa Setelah Bayi Diadzani
Setelah bayi lahir  kemudian diadzani, sebagai orang tua dapat membacakan doa di telinga sebelah kanan sebagai berikut :

 “Innii u’iidzuhaa bika wa dzurriyyatahaa minas syaithoonir rojiimi” Artinya : "Sesungguhnya aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk." (QS. 3:36).

Dilanjutkan dengan membaca kalimah iqomah ditelinga sebelah kiri sambil dibacakan doa berikut :

“Allaahumma baarik lanaa wa lihaadzal waladi fii hayaatihii wa thowwil ‘umrohuu bi thoo’atika Yaa arhamar Roohimiin”

Artinya : “Ya Allah, berikanlah keberkahan pada kami dan anak ini, serta panjangkan umurnya dengan senantiasa (menjalani) taat kepada-Mu wahai Dzat Yang paling menyayangi diantara yang menyayangi”.

Oke, demikianlah semoga bermanfaat yaa..

Minggu, 29 Januari 2017

Sunnah-Sunnah yang Perlu Dilakukan Untuk Ibu Hamil

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihiwa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d:

Kepada ibu yang dimuliakan Allah Ta’ala …. Semoga rahmat dan rahim-Nya menyempurnakan kebahagiaan ibu sekeluarga dan kita semua…

Sebenarnya tidak ada petunjuk khusus dan rinci dalam Al Quran dan As Sunnah untuk ibu-ibu hamil. Namun, kehamilan adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala kepada hamba-Nya dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di hadapan mereka. Oleh karena itu, mensyukuri nikmat “kehamilan” adalah bagian dari ajaran Islam.

Ada beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan selama kehamilan:

1. Bergembira atas berita kehamilan.

Ini yang mesti diingat oleh seorang muslimah yang sedang hamil (tentu dari suami yang sah).  Sebab, Allah Ta’ala mempercayakan dirinya dan suami untuk melahirkan, merawat, membesarkan, dan mendidik salah satu hamba-Nya. Baik itu kehamilan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, tetaplah bergembira. Cukup banyak wanita hanya mensyukuri kehamilan pertama atau kedua –karena ini yang dinanti-nanti- tetapi mereka nampak shock dengan kehamilan selanjutnya, apalagi kehamilan itu di luar rencana mereka. Seharusnya mereka bersyukur dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk hamil, sementara masih banyak wanita yang berjuang bertahun-tahun, belasan, bahkan sampai mereka tua belum dikaruniai anak. Lebih dari itu, ada yang sampai menghabiskan biaya besar untuk hamil, bahkan menggadaikan aqidah dengan datang ke dukun.

Bergembira atas datangnya jabang bayi telah Allah Ta’ala ajarkan dalam beberapa ayat berikut ini, ketika menceritakan lahirnya Ismail dan Ishaq untuk Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam:

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Maka Kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar (Yakni Ismail). (QS. Ash Shafat: 101)

Ayat yang lain:

إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

  “Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim (yakni Ishaq)” (QS. Al Hijr: 53)

2. Melindungi diri dan kandungan dari gangguan setan

Hendaknya seorang muslim dan muslimah, apalagi ibu hamil, tidak melupakan dzikir-dzikir ma’tsur yang memang Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ajarkan, baik yang berasal dari Al Quran seperti membaca Al Mu’awwidzaat (Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas), Al Fatihah, lima ayat awal Al Baqarah dan tiga ayat terakhirnya, juga ayat Kursi. Begitu pula doa-doa perlindungan dari nabi, seperti a’udzu bikalimaatillahi taammati min syarr maa khalaq, pagi dan petang. 

3. Jangan lupa membaca Al-Quran minimal mendengarkannya


Tidak ayat surat dan ayat khusus untuk ibu-ibu hamil dan bayi dalam kandungannya. Bacalah Al Quran pada surat apa pun dan biasakanlah hal itu sebagai pendengaran yang baik bagi jabang bayi, dan hindarilah lagu dan musik jahiliyah. Semoga hal itu menjadi budaya baik yang melekat di telinga jabang bayi yang membekas sampai dia lahir dan besar nanti.

4. Hindari kepercayaan terhadap mitos-mitos yang menodai aqidah


Biasanya, cukup banyak tahayul dan khurafat yang menyertai ibu-ibu hamil. Mereka ditakut-takuti dengan berbagai larangan dan perintah yang tidak ada dasarnya dari agama Islam, melainkan berdasarkan keyakinan tidak jelas dari mana sumbernya. Seperti larangan memasukkan bantal ke sarungnya, karena takut susah melahirkan; atau jika melihat yang jelek-jelek maka ucapkanlah “amit-amit jabang bayi” sambil mengusap perut dengan harapan agar  bayi nanti lahir tidak jelek seperti yang dilihatnya.

5. Memeriksakan kesehatan ibu dan bayi secara teratur kepada  ahlinya

Ini merupakan upaya logis dan sunnatullah yang mesti dilakukan. Tidak sekadar mengandalkan tawakal setelah dzikir dan doa, tetapi sebab-sebab kauniyah yang natural juga mesti disediakan. Larangan-larangan yang sifatnya medis, begitu pula anjurannya, hendaknya diperhatikan. Jangan sampai ibu hamil lebih percaya dengan tahayul dan khurafat, tetapi dengan hal-hal yang ilmiah justru tidak dipercaya.

6. Jika sulit melahirkan cobalah lakukan sunnahnya Ibnu Abbas dan Ali  Radhiallahu ‘Anhuma


Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:

إذا عسر على المرأة ولدها تكتب هاتين الآيتين والكلمتين في صحيفة ثم تغسل وتسقى منها، وهي: بسم الله الرحمن الرحيم لا إله إلا الله العظيم الحليم الكريم، سبحان الله رب السموات ورب الارض ورب العرش العظيم ” كأنهم يوم يرونها لم يلبثوا إلا عشية   أو ضحاها ” [ النازعات: 46 ]. ” كأنهم يوم يرون ما يوعدون لم يلبثوا إلا ساعة من نهار بلاغ فهل يهلك إلا القوم الفاسقون

“Jika seorang wanita kesulitan ketika melahirkan, maka Anda tulis dua ayat berikut secara lengkap di lembaran, kemudian masukkan ke dalam air dan kucurkan kepada dia, yaitu kalimat: Laa Ilaha Illallah Al Halimul Karim Subhanallahi Rabbil ‘Arsyil ‘Azhim Al Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin. (Tiada Ilah Kecuali Allah yang Maha Mulia, Maha Suci Allah Rabbnya Arsy Yang Agung, Segala Puji Bagi Allah Rabb Semesta Alam)

Ka’annahum yauma yaraunaha lam yalbatsu illa ‘asyiyyatan aw dhuhaha. (Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia), melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi. QS. An Nazi’at (79): 46)

Ka’annahum yauma yarauna maa yu’aduna lams yalbatsuu illa saa’atan min naharin balaagh. (Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup. QS. Al Ahqaf (46): 35) (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, 16/222. Dar Ihya’ At Turats)

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan sebagai berikut:

فَصْلٌ وَيَجُوزُ أَنْ يَكْتُبَ لِلْمُصَابِ وَغَيْرِهِ مِنْ الْمَرْضَى شَيْئًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَذِكْرُهُ بِالْمِدَادِ الْمُبَاحِ وَيُغْسَلُ وَيُسْقَى كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ أَحْمَد وَغَيْرُهُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَد : قَرَأْت عَلَى أَبِي ثِنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ ؛ ثِنَا سُفْيَانُ ؛ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ الْحَكَمِ ؛ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ؛ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : إذَا عَسِرَ عَلَى الْمَرْأَةِ وِلَادَتُهَا فَلْيَكْتُبْ : بِسْمِ اللَّهِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا } { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ } . قَالَ أَبِي : ثِنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ بِإِسْنَادِهِ بِمَعْنَاهُ وَقَالَ : يُكْتَبُ فِي إنَاءٍ نَظِيفٍ فَيُسْقَى قَالَ أَبِي : وَزَادَ فِيهِ وَكِيعٌ فَتُسْقَى وَيُنْضَحُ مَا دُونَ سُرَّتِهَا قَالَ عَبْدُ اللَّهِ : رَأَيْت أَبِي يَكْتُبُ لِلْمَرْأَةِ فِي جَامٍ أَوْ شَيْءٍ نَظِيفٍ . وَقَالَ أَبُو عَمْرٍو مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَد بْنِ حَمْدَانَ الحيري : أَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ النسوي ؛ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَد بْنِ شبوية ؛ ثِنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ ؛ ثِنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ؛ عَنْ سُفْيَانَ ؛ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى ؛ عَنْ الْحَكَمِ ؛ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ؛ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : إذَا عَسِرَ عَلَى الْمَرْأَةِ وِلَادُهَا فَلْيَكْتُبْ : بِسْمِ اللَّهِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ ؛ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ؛ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا } { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ } . قَالَ عَلِيٌّ : يُكْتَبُ فِي كاغدة فَيُعَلَّقُ عَلَى عَضُدِ الْمَرْأَةِ قَالَ عَلِيٌّ : وَقَدْ جَرَّبْنَاهُ فَلَمْ نَرَ شَيْئًا أَعْجَبَ مِنْهُ فَإِذَا وَضَعَتْ تُحِلُّهُ سَرِيعًا ثُمَّ تَجْعَلُهُ فِي خِرْقَةٍ أَوْ تُحْرِقُهُ

“Dibolehkan bagi orang yang sakit atau tertimpa lainnya, untuk dituliskan baginya sesuatu yang berasal dari Kitabullah dan Dzikrullah dengan menggunakan tinta yang dibolehkan (suci) kemudian dibasuhkan tulisan tersebut, lalu airnya diminumkan kepada si sakit, sebagaimana hal ini telah ditulis (dinashkan) oleh Imam Ahmad dan lainnya.

Abdullah bin Ahmad berkata; Aku membaca di depan bapakku: telah bercerita kepada kami Ya’la bin ‘Ubaid telah bercerita kepada kami Sufyan, dari Muh. bin Abi Laila, dari Hakam, dari Said bin Jubeir dari Ibnu Abbas ia berkata: “Jika seorang ibu sulit melahirkan maka tulislah …

بِسْمِ اللَّهِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

          “Dengan nama Allah, Tidak ada Ilah selain Dia, Yang Maha Mulia, Maha Suci Allah Rabbnya ‘Arys yang Agung, segala puji bagi Allah Rabba semesta alam.”

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

          “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An Naziat (79):46)

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

        “Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (QS. Al Ahqaf (46): 35)

Bapakku berkata: Telah menceritakan kepadaku Aswad bin ‘Amir dengan sanadnya dan dengan maknanya dan dia berkata: Ditulis di dalam bejana yang bersih kemudian diminum. Bapakku berkata: Waki’ menambahkannya: Diminum dan dipercikkan kecuali pusernya (ibu yang melahirkan), Abdullah berkata: Aku melihat bapakku menulis di gelas atau sesuatu yang bersih untuk seorang ibu (yang sulit melahirkan).

Abu Amr Muham mad bin Ahmad bin Hamdan Al Hiri berkata: Telah mengabarkan kepada kami Al Hasan bin Sufyan An Nasawi, telah bercerita kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Syibawaih telah bercerita kepadaku Ali bin Hasan bin Syaqiq, telah bercerita kepadaku Abdullah bin Mubarak, dari Sufyan dari ibnu Abi Laila, dari Al Hakam, dari Said bin Jubeir, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Jika seorang wanita sulit melahirkan maka tulislah:

(lalu disebutkan ayat-ayat seperti di atas)

Ali berkata: ditulis di atas kertas kemudian digantungkan pada anggota badan wanita (yang susah melahirkan). Ali berkata: Dan sungguh kami telah mencobanya, maka tidaklah kami melihat sesuatu yang lebih menakjubkan (hasilnya) dari padanya maka jika wanita tadi sudah melahirkan maka segeralah lepaskan, kemudian setelah itu sobeklah atau bakarlah.”(Demikian fatwa Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa, 4/187. Maktabah Syamilah)

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah menyebutkan beberapa riwayat dari kaum salaf (terdahulu) kebolehan membaca atas menuliskan ayat Al Quran pada wadah lalu airnya dipercikkan kepada orang sakit. Berikut ini ucapannya:

قَالَ الْخَلّالُ حَدّثَنِي عَبْدُ اللّهِ بْنُ أَحْمَدَ : قَالَ رَأَيْتُ أَبِي يَكْتُبُ لِلْمَرْأَةِ إذَا عَسُرَ عَلَيْهَا وِلَادَتُهَا فِي جَامٍ أَبْيَضَ أَوْ شَيْءٍ نَظِيفٍ يَكْتُبُ حَدِيثَ ابْنِ عَبّاسٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ لَا إلَهَ إلّا اللّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللّهِ رَبّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ { كَأَنّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ } [ الْأَحْقَافُ 35 ] { كَأَنّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلّا عَشِيّةً أَوْ ضُحَاهَا } [ النّازِعَاتُ 46 ] . قَالَ الْخَلّالُ أَنْبَأَنَا أَبُو بَكْرٍ الْمَرْوَزِيّ أَنّ أَبَا عَبْدِ اللّهِ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبْدِ اللّهِ تَكْتُبُ لِامْرَأَةٍ قَدْ عَسُرَ عَلَيْهَا وَلَدُهَا مُنْذُ يَوْمَيْنِ ؟ فَقَالَ قُلْ لَهُ يَجِيءُ بِجَامٍ وَاسِعٍ وَزَعْفَرَانٍ وَرَأَيْتُهُ يَكْتُبُ لِغَيْرِ وَاحِدٍ

“Berkata Al Khalal: berkata kepadaku Abdullah bin Ahmad, katanya: Aku melihat ayahku menulis untuk wanita yang sulit melahirkan di sebuah  wadah putih atau sesuatu yang bersih, dia menulis hadits Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu:

Laa Ilaha Illallah Al Halimul Karim Subhanallahi Rabbil ‘Arsyil ‘Azhim Al Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin. (Tiada Ilah Kecuali Allah yang Maha Mulia, Maha Suci Allah Rabbnya Arsy Yang Agung, Segala Puji Bagi Allah Rabb Semesta Alam)

Ka’annahum yauma yarauna maa yu’aduna lam yalbatsuu illa saa’atan min naharin balaagh. (Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup. QS. Al Ahqaf (46): 35)

Ka’annahum yauma yaraunaha lam yalbatsu illa ‘asyiyyatan aw dhuhaha. (Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia), melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi. QS. An Nazi’at (79): 46)

Al Khalal mengatakan: mengabarkan kepadaku Abu Bakar Al Marwazi, bahwa ada seseorang datang kepada  Abu Abdullah (Imam Ahmad), dan berkata: “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), kau menulis untuk wanita yang kesulitan melahirkan sejak dua hari yang lalu?” Dia menjawab: “Katakan baginya, datanglah dengan wadah yang lebar dan minyak za’faran. “ Aku melihat dia menulis untuk lebih dari satu orang. (Zaadul Ma’ad, 4/357. Muasasah Ar Risalah)

Beliau juga mengatakan:

وَرَخّصَ جَمَاعَةٌ مِنْ السّلَفِ فِي كِتَابَةِ بَعْضِ الْقُرْآنِ وَشُرْبِهِ وَجَعَلَ ذَلِكَ مِنْ الشّفَاءِ الّذِي جَعَلَ اللّه فِيهِ . كِتَابٌ آخَرُ لِذَلِكَ يُكْتَبُ فِي إنَاءٍ نَظِيفٍ { إِذَا السّمَاءُ انْشَقّتْ وَأَذِنَتْ لِرَبّهَا وَحُقّتْ وَإِذَا الْأَرْضُ مُدّتْ وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلّتْ } [ الِانْشِقَاقُ 41 ] وَتَشْرَبُ مِنْهُ الْحَامِلُ وَيُرَشّ عَلَى بَطْنِهَا .

“Segolongan kaum salaf memberikan keringanan dalam hal menuliskan sebagian dari ayat Al Quran dan meminumnya, dan menjadikannya sebagai obat yang Allah jadikan padanya. Untuk itu, dituliskan di bejana yang bersih:

“Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh, dan apabila bumi diratakan, dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al Insyiqaq (84): 1-4)

Lalu diminumkan kepada orang hamil dan diusapkan ke perutnya. (Ibid, 4/358). Demikian. Wallahu A’lam

Jumat, 27 Januari 2017

Adab dan Doa untuk Wanita Hamil Hingga Proses Melahirkan

Para salaf sholeh mendidik anak-anak mereka semenjak dari kandungan dengan cara mengajak istri-istrinya diwaktu hamil untuk selalu melakukan amalan-amalan baik seperti membaca alquran hingga khatam berkali-kali,bersholawat,dzikir dan selalu mendoakan anak yang dikandung dgn harapan supaya menjadi anak yang sholeh,qurratul ain rasulullah saw,berbakti kepada orang tuanya,mengikuti jejak para salafusholeh,menjadi orang yang bermanfaat dalam agama untuk dirinya dan umat islam dll.adapun doa buat wanita hamil banyak dan diantarannya:

Doa untuk wanita hamil

(dari habib abdulqadir bin ahmad assegaf)

Dibaca setiap habis sholat lima waktu

بسم الله الرّحمن الرّحيم

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد، اللَّهُمَّ احْفَظْ وَلَدِيْ مَا دَامَ فِيْ بَطْنِي وَاشْفِهِ مَعَ أُمَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيِّكَ وَ رَسُوْلِكَ، أَنْتَ شَافٍ لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاءُكَ شِفَاءً عَاجِلاً لاَيُغَادِرُ سَقَمًا،اللَّهُمَّ صَوِّرْهُ فِيْ بَطْنِيْ صُوْرَةً حَسَنَةً،وَثَبِّتْ قَلْبَهُ إِيْمَانًا بِكَ وَبِرَسُوْلِكَ،اللَّهُمَّ أَخْرِجْهُ مِنْ بَطْنِيْ وَقْتَ وِلاَدَتِيْ سَهْلاً وَسَلِيْمًا فِيْ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا كَمَا تَقَبَّلْتَ دُعَاءَ نَبِيِّكَ وَ رَسُوْلِكَ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ،اللَّهُمَّ احْفَظِ اْلوَلَدَ الَّذِيْ أَخْرَجَكَ مِنْ عَالَمِ الظَّلاَمِ إِلَى عَالَمِ النُّوْرِ وَ اجْعَلْهُ صَحِيْحًا كَامِلاً عَاقِلاً لَطِيْفَا،اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ شَهِيْدًا وَ مُبَارَكًا وَعَالِمًا وَ حَافِظًا مِنْ كَلاَمِكَ اْلمَكْنُوْنِ وَكِتَابِكَ الْمَحْفُوْظِ،اللّهُمَّ طَوِّلْ عُمْرَهُ وَ صَحِّحْ جَسَدَهُ وَأَفْصِحْهُ لِقِرَاءَةِ اْلقُرْآنِ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَبْرًا مِنَ اْلمَرَضِ وَ اْلأَسْقَامِ وَالْعَطَشِ بِبَرْكَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلهِ وَ سَلَّمَ وَ جَمِيْعِ اْلأَنْبِيَاءِ وَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَ اْلمَلاَئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، إِنَّ اللهَ وَ اْلمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا،وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.آمين

Doa dari alhabib ahmad bin hasan alathos didalam kitab tadzkirun nas agar tidak keguguran insyaallah,maka dianjurkan bagi wanita hamil untuk meletakkan tanganya diatas perutnya sambil membaca ya khasiib 7kali disetiap habis sholat 5 waktu:

يَا حَسِيْب x7 (بعد كل الفرض)

Dan adapun doa untuk memudahkan proses melahirkan sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-adzkar dari hadis rasulullah saw dan diamalkankan salafusholeh,yaitu terlebih dahulu membaca ayat kursi:

اللهُ لآَ إِلَهَ إِلاَّ هُوََ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَنَوْمُُ لَّهُ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَاخَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيم

Lalu bacalah ayat dibawah ini 3kali:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ اْلأَرْضَ فِيْ سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى اْلعَرْشِ.يُغْشِيْ اْللََّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيْثًا وَّالشَّمْسَ وَ اْلقَمَرَ وَ النُّجُوْمَ مُسَخَّرَاتِ بِأَمْرِهِ.أَلاَ لَهُ اْلخَلْقُ وَاْلأَمْرُ.تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ اْلعَالَمِيْنَ.x3

Kemudian membaca surah al ikhlas dan mu’awidzatain dan alfatehah:

بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ. وَلَمْ يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ

بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد

بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الر
َّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ

Kemudian perbanyaklah doa alkarb:

لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ العَظِيْمُ اْلحَلِيْمُ،لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ رَبُّ اْْلعَرْشِ اْلعَظَيمِْ،لاَاِلَهَ اِلاَّاللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَ الأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَ رَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ.

Kemudian bagi suami dianjurkan untuk memperbanyak bacaan doa dibawah ini ketika istrinya sudah ada tanda-tanda melahirkan:

حَنَّا وَلَدَتْ مَرْيَم، مَرْيَم وَلَدَتْ عِيْسَى أُخْرُجْ أَيُّهَا اْلمَوْلُوْدُ بِإِذْنِ اْلمَلِكِ اْلمَعْبُوْدِ

.Apabila bayi lahir maka lakukanlah sebagiamana yang dilakukan oleh rasulullah saw. Yaitu adzan ditelinga kanan:
الله اكبر الله اكبر x٢
اشهد ان لااله الا الله x٢
اشهد ان محمدارسول الله x٢
حي علي الصلاة x٢
حي علي الفلاح x٢
الله اكبر الله اكبر x١
لا اله الا الله x١
dan iqomat ditelinga kiri kemudian membaca surah alikhlas:
بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

قُل ْهُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ. وَلَمْ يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ.
Dan diantara amalan salafuna sholeh membacakan dan tangan diatas kepala anak kecil atau masih bayi surah ALQODAR 3X:
بسم الله الرحمن الرحيم

KEMUDIAN MEMBACA SURAH ALAM NASYRAH DAN TANGAN DIDADA BAYI ATAU ANAK KECIL

بسم الله الرحمن الرحيم

Didalam kitab ALFAWAIDUL MUKHTAROH oleh HABIB ZEN BIN SUMAITH dinukil dari amalan salaf,dianjurkan agar(orang tua)memegang kepala anaknya sambil membaca doa:
ْ الشَّهِيْد x7 البَارُ x7

dan disebutkan didalam nasehat alhabib ali bin Muhammad alhabsyi tentang amalan diatas insya allah kelak ketika dewasa menjdi anak yang sholeh sesusai apa yang diharapkan orang tuanya.

ada sebagian amalan ketika bayi baru lahir yaitu dengan menulis dikening dihari kelahiran bayi kalimat basmalah
بسم الله الرحمن الرحيم kemudian hari berikutnya ditulis huruf-huruf hijaiyah begitu seterusnya ditiap harinya sampai selesai dari huruf-huruf tersebut,setelah itu tulislah asma’ul husna ditiap harinya dari kalimat allah sampai asshobuur.

Jika perilaku dan sikap anak-anak anda tidak sesuai dengan tabiat anda yaitu tidak berbudi baik,maka doakanlah mereka:

اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي أَوْلاَدِيْ،وَ احْفَظْهُمْ وَ لاَ تَضُرَّهُمْ،وَ ارْزُقْنَا بِرَّهُمْ.

Disamping meraka para salafus sholeh menekankan pendidikan agama dan keteladanan akhlak yang terpuji untuk anak-anaknya dan keluarga dirumah mereka, Dahulu kaum salafus sholeh mendidik anak-anak mereka agar percaya penuh kepada allah dan mengagungkan perintah-perintahnya sejak mereka masih kecil.orang magrabi menyuruh kaum ibu yang sedang menyusui anak-anaknya untuk berdzikir kepada allah sembari memberikan air susu kepada anaknya (sebagaimana disebutkan oleh (ALHABIB ALI BIN MUHAMMAD ALHABSYI).

Disebutkan dalm kitam uqud al-lijain(imam nawawi albanteni):

وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَا تَرْضَى إِحْدَاكُنَّ أَيَّتُهَا النِّسَاءُ) أي نساء هذه الأمة (إنَّهَا إِذَا كَانَتْ حَامِلاً مِنْ زَوْجِهَا وَهُوَ عَنْهَا رَاضٍ) بأن تكون مطيعة له فيما يحل، ومثلها الأَمة المؤمنة الحاملة من سيدها (أَنَّ لَهَا) أي بأن لها مدة حملها (مِثْلَ أَجْرِ الصَائِمِ القَائِمِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ) أي في الجهاد

Tersebut dalam riwayat bahwa NAbi Muhammad S.A.W bersabda : ”Apakah salah seorang di antara kamu senang,wahai kaum isteri,kalau kamu sedang mengandung dari hasil hubungan dengan suaminya, sementara suaminya merasa senang. Sesungguhnya perempuan yang sedang hamil memperoleh pahala seperti pahalanya orang yang sedang berpuasa sambil perang di jalan
Allah.

(وَإِذَا أَصَابَهَا الطَلْقُ) أي وجَعُ الولادةِ (لَمْ يَعْلَمْ أَهْلُ السَمَاءِ وَالأَرْضِ) من إنس وجِنّ وملك (مَا أُخْفِىَ) خبئَ (لَهَا مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ) أي من شيء نفيس تَقرّ به عينُهَا لأجل ما أقلقها (فَإِذَا وَضَعَتْ لَمْ يَخْرُجْ مِنْ لَبَنِهَا جُرْعَةٌ) بضم وسكون (وَلَمْ يُمَصَّ مِنْ ثَدْيِهَا مَصَّةٌ إِلاَّ كَانَ لَهَا بِكُلِّ جُرْعَةٍ وَبِكُلِّ
مَصَّةٍ حَسَنَةٌ، فَإِنْ أَسْهَرَهَا لَيْلَةً) أي واحدة (كَانَ لَهَا مِثْل
ُ أَجْرِ سَبْعِيْنَ رَقَبَةً تُعْتِقُهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ) أي في طاعته (بإخْلاَصٍ) أي من غير رياء. . رواه الحسن بن سفيان والطبراني وابن عساكر عن سلامةَ

Apabila mencapai puncak sakit mendekati melahirkan semua penduduk langit tidak ada yang tahu perkara apa yang disamarkan baginya, berupa ketenangan bathinnya. Apabila telah melahirkan, maka tidak ada tetesan air susu yang keluar dari susu ibunya dan tidaklah si bayi menghisap air susu ibunya kecuali pada setiap tetesan dan isappan di catat sebagai satu kebaikkan. Jika di waktu malamnya ia terjaga maka ia memperoleh pahala,bagaikan pahala memerdekakan tujuh puluh budak yang di merdekakan dijalan Allah secara ikhlas, (di riwayatkan Hasa bin sufyan dan Tabrani, ibnu Asakir dari salamah)

Rabu, 25 Januari 2017

Hukum Berhubungan Intim Dengan Istri Yang Sedang Hamil

Terdapat dua pendapat berbeda mengenai hukum berhubungan intim dengan wanita yang sedang hamil diantaranya ialah:

1. Sebagian ulama' menyatakan bahwa berhubungan intim dengan wanita yang sedang hamil hukumnya makruh, mereka mendasarkan pendapatnya pada hadits yang diriwayatkan oleh Asma' binti Yazid As-Sakan yang mendengar Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda :

لَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ سِرًّا، فَإِنَّ الْغَيْلَ يُدْرِكُ الْفَارِسَ فَيُدَعْثِرُهُ عَنْ فَرَسِهِ

"Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian secara rahasia, sesungguhnya pengaruh menggauli isteri pada waktu menyusui/hamil akan menimpa penunggang kuda sehingga menyebabkannya lemah dan terjatuh dari kudanya." (Sunan Abu Dawud, no.3881, Sunan Ibnu Majah, no.2012 dan Shohih Ibnu Hibban, no.5984)

Hadits diatas secara tegas menyatakan larangan untuk melakukan ghoil, ghoil adalah menggauli wanita yang sedang hamil atau menyusui. Praktek ini dianggap sebagai pembunuhan secara samar terhadap anak yang dikandung, meskipun efek buruknya tidak nampak secara langsung, dan terkadang baru nampak ketika bayi yang dikandung sudah dilahirkan dan sudah dewasa. Dalam hadits diatas dicontohkan bahwa perbuatan itu seperti orang yang menggoncangkan kuda hingga orang yang menunggangnya jatuh. Hal ini dikarenakan air susu wanita akan rusak apabila terjadi persenggamaan pada masa kehamilan sehingga anak yang dilahirkan akan lemah, dan inilah yang dianggap sebagai pembunuhan dengan samar.

2. Mayoritas ulama' berpendapat bahwa berhubvungan intim dengan wanita yang sedang hamil itu diperbolehkan dan tidak makruh. Mereka mendasarkan pendapatnya pada beberapa hadits, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Judamah binti Wahab Al-Asadiyyah, ia mendengar Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنِ الْغِيلَةِ، فَنَظَرْتُ فِي الرُّومِ وَفَارِسَ، فَإِذَا هُمْ يُغِيلُونَ أَوْلَادَهُمْ، فَلَا يَضُرُّ أَوْلَادَهُمْ ذَلِكَ شَيْئًا

"Sungguh, tadinya aku ingin melarang dari ghilah, lalu aku lihat orang-orang Persia dan Romawi melakukannya dan itu tidak membahayakan anak-anak mereka." (Shohih Muslim, no.1442)

Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qodir menjelaskan; maksud dari hadits diatas adalah jika memang benar bahwa menggauli istri yang sedang hamil itu membahayakan tentunya bahaya itu akan bisa dilihat dari anak-anak orang romawi dan persia karena mereka melakukannya, sedangkan para ahli kesehatan banyak dikalangan mereka, nyatanya dokter-dokter mereka tak ada yang melarang hal tersebut, karena itulah aku juga tidak melarangnya.

Beliau juga menukil perkataan Syekh Ibnul qoyyim yang menjelaskan; hadits ini tidak bertentangan dengan hadits yang melarang ghilah, sebab maksud nabi adalah mendiskusikan dan memberikan pengarahan kepada para sahabat untuk tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan anak yang akan menjadi lemah atau mati, sebab bayi yang ada dalam kandungan memperoleh asupan makanan dari darah haidh sang ibu, dikhawatirkan persenggamaan yang dilakukan saat hamil akan merusak kualitas air susu ibunya, dan nanti saat bayi tersebut lahir dan menyusui, asupan gizi yang didapat dari air susu ibunya juga kurang sempurna, dan hal ini akan membuat kondisi bayi menjadi lemah. Jadi hal ini adalah himbauan dari Nabi untuk meninggalkan hal tersebut, namun beliau juga tidak mengharamkannya dan mencegah mereka untuk melakukannya, karena hal ini tidak selamanya terjadi pada semua anak.   

Kesimpulannya, berhubungan intim saat istri sedang hamil tu diperbolehkan dan tidak makruh menurut pendapat mayoritas ulama', kecuali apabila hal tersebut membahayakan bayi yang ada didalam kandungan berdasarkan penjelasan dari ahli kesehatan, apalagi jika usia kehamilannya sudah tua.

Senin, 23 Januari 2017

Hukum Cara Solat Duduk Bagi Ibu Hamil

Hukum Cara Solat Duduk Bagi Ibu Hamil


bakal menjadi ilmu bermanfaat bagi bumil yang sedang dalam masa kehamilan, tetapi tidak bisa sujud dengan sempurna disebabkan perut yang semakin membuncit, ditambah lagi badan yang semakin gemuk dan sering merasa tidak nyaman.


Terkadang bagi bunda yang awam dalam ilmu agama sering muncul pertanyaan bolehkan wanita hamil sholat sambil duduk ? apakah sholat sambil duduk itu mengurangi pahala ? dan pertanyaan lainnya.


Oke moms yang dirahmati Allah SWT mari kita kupas bagaimana cara dan hukum sholat ibu hamil dengan duduk !



Hukum Dan Cara Solat Duduk Bagi Ibu Hamil


Pertama perlu bumil pahamil bahwa Islam itu agama yang sesuai dengan fitrah manusia artinya apabila dijalankan akan memberikan kemuliaan, ketenangan dan kemudahan bagi manusia. Islam memandang ibu mengandung sebagai keadaan berat yang dijalani oleh seorang perempuan, sehingga ada keringanan yang bakal dia dapat karena kemampuannya yang terbatas dalam mengerjakan kewajiban-kewajiban agama, semisal shalat dan puasa.


Kaidah solat untuk orang dengan keadaan sakit ialah dirinya wajib solat dengan menjalankan rukun-rukun dan wajib-wajib solat dengan apa yang menurut dirinya bisa dilakukan, banyak dalil Al Qur’an dan As Sunnah yang menerangkan pendapat ini semisal :


“Bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuan kalian.” (Terjemah Al Qur’an Surat At Taghabun ayat 16)


“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya.” (Terjemah Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 286)


Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :


“Apabila kalian diperintahkan dengan suatu amalan, maka tunaikanlah semampu kalian.” (Hadist Riwayat Imam Bukhari, Nomor 7288 dan Muslim nomor 1337)


Dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mengidap wasir, kemudian aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai perihal shalat. Beliau bersabda, “Shalatlah dengan berdiri, apabila engkau tidak mampu maka tunaikanlah secara duduk, apabila engkau tidak mampu juga, maka tunaikanlah dengan berbaring miring.” (Hadist Riwayat Imam Bukhari nomor 1117).


Maka jawaban pertanyaan bolehkah ibu mengandung solat duduk ?


Ya ada, tata cara solat duduk bagi ibu hamil itu memang ada dalam ajaran Islam, sehingga apabila bunda bisa melaksanakan shalat dengan berdiri maka wajib bunda melakukannya dengan berdiri. Jika wanita hamil tidak mampu solat dengan berdiri, maka ibu hamil shalat dengan duduk.


Kemudian ibu hamil sholat sambil duduk di atas kursi juga boleh karena hal itu memudahkan mereka untuk mendapatkan kekhusyuan dalam solat, sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Syaikh Shalih al Munajjid yang menganjurkan untuk solat duduk di atas lantai dengan duduk bersila, namun jika merasa sangat sulit bisa melakukan sholat sambil duduk di kursi.


Cara solat duduk bagi ibu hamil mengatur posisi sujud sebaiknya lebih ke bawah (rendah) daripada posisi rukuk, dan bunda tidak harus memaksakan meletakkan dahi di lantai ketika sujud apabila sulit dikerjakan cukup dengan menyondongkan badan lebih ke depan dibandingkan posisi rukuk itulah penjelasan dari saikh Ibnu Baz.

Sabtu, 21 Januari 2017

10 Manfaat Membaca Al Qur’an bagi Wanita Hamil

Al qur’an tidak hanya kitab suci bagi pemeluk agama islam, namun dengan membaca atau mendengarkannya justru mempu mendatangkan manfaat secara psikologis. Bahkan sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan oleh di Kuwait menemukan fakta bahwa seseorang yang tidak memeluk agama islam sekalipun akan mendapatkan dan merasakan efek terapeutik yang menenangkan. Padahal ayat-ayat yang mereka perdengarkan merupakan bahasa arab yang tidak mereka ketahui. Hal ini dapat terjadi karena adanya perubahan secara fisiologis pada sistem saraf ketika mendengar bacaan ayat-ayat al qur’an.

Dengan beragam manfaat diatas, maka membaca al qur’an sangat disarankan, terutama untuk wanita yang sedang mengandung karena manfaat baca al-quran begitu mempengaruhi bagi wanita yang sedang hamil. Membaca al qur’an ketika hamil tidak hanya dilakukan oleh seorang istri semata namun suami yang sering membacakan al quran bagi istrinya sewaktu hamil akan berdampak baik bagi janin. Janin yang berada didalam kandungan ketika berusia 6 bulan sudah dapat mendengar dengar jelas, untuk itu apabila bacaan al qur’an sering diperdengarkan akan membuat kecerdasan otak anak meningkat. Ketika ibu hamil membaca al qur’an maka janin yang dikandungnya juga akan mengalami proses belajar dengan mendengarkannya. Hal ini karena janin sudah bisa mendengarkan dengan jelas dan dapat memberikan respons terhadap apapun yang didengar. Apabila ibu hamil rutin membaca al qur’an maka manfaatnya tidak hanya akan beguna bagi janin namun bagi wanita hamil juga akan merasakan dampak secara psikologis. Dimana ibu hamil akan merasa lebih tenang dan rileks dengan membaca al qur’an.

Selain itu, ibu hamil yang membaca al qur’an akan membantu merangsang perkembangan sel otak janin. Apabila sel otak janin sering mendapat rangsangan maka nantinya dapat menjadi pribadi yang sangat cerdas dan begitu besar keajaiban al-quran di dunia.Untuk lebih mengetahuinya secara mendalam, Berikut manfaat membaca al qur’an bagi ibu hamil :

1. Bayi akan Mempunyai Kecerdasan Emosional yang Lebih Baik


Ibu hamil yang rutin membacakan lantunan ayat-ayat al qur’an ketika mengandung akan membuat kecedasan emosional bayi menjadi lebih baik. Sebaiknya tingkatkan intensitas membaca Al Qur’an ketika mengandung supaya janin dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

2. Bacaan Al Qur’an Dapat Menenangkan Janin

Selama masa kehamilan, seorang wanita akan mempunyai perasaan yang lebih sensitif dari biasanya. Untuk itu, ibu hamil akan mengalami ketidakstabilan emosi. Apabila hal ini tidak segera ditangani tentunya akan berdampak kurang baik bagi janin itu sendiri. Selain memberikan ketenangan bagi sang ibu, nyatanya membaca al qur’an juga akan membuat janin menjadi lebih tenang. Hal ini karena saraf pendengaran dan saraf emosi akan tumbuh pertama kalinya ketika janin berada didalam rahim.

3. Janin Mendapat Supply Hormon Bahagia

Dengan membaca al qur’an, ibu hamil akan mendapatkan ketenangan. Untuk itu, sebaiknya selama kehamilan ibu hamil juga meningkatkan intensitas membaca al qur’an. Apabila dalam satu hari, anda biasanya membaca al qur’an satu lembar setelah shalat wajib maka selama hamil sangat dianjurkan untuk menambahnya lebih banyak.

Ketenangan yang didapat dengan membaca al qur’an bahkan akan meningkatkan jumlah hormon serotonim didalam tubuh ibu hamil. Hal ini tentunya akan berdampak juga pada kondisi janin, dimana hormon pemicu rasa bahagia juga akan masuk kedalam darah yang mengalir pada kandungan. Hormon bahagia yang dapat tersalurkan pada janin diantaranya endorfin dan oksitosin.

4. Kecerdasan Sosial Janin dapat Terstimulasi

Janin yang berada didalam kandungan akan merasakan dampak yang baik dari segi fisik dan psikologisnya. Selain meningkatnya kecerdasan emosi, kecerdasan sosial juga akan terstimulasi dengan baik. Nantinya anak akan tumbuh dengan pribadi yang mempunyai kecerdasan sosial sehingga cara komunikasi dan kepedulian kepada sesamanya juga tinggi. untuk itu, apabila ibu hamil tidak bisa meningkatkan intensitas selama masa kehamilan sebaiknya kombinasikan juga dengan mendengarkan bacaan lafal-lafal al qur’an.

5. Meningkatkan Kecerdasan Janin

Bacaan al qur’an akan menstimulasi kecerdasan otak janin yang masih bisa berkembang selama masa pertumbuhan didalam kandungan. Pada dasarnya janin yang menginjak usia 6 bulan akan memulai fase pembelajaran pertama didalam kandungan. Untuk itu, dalam masa- masa tersebut, janin akan mendengar dengan jelas setiap suara yang diperdengarkan. Bahkan pada usia tersebut, janin juga akan memberikan respons terhadap apapun yang diperdengarkan. Jika selama ini anda mengetahui bahwa memperdengarkan musik klasik seperti mozart dapat meningkatkan kecerdasan janin, satu hal yang perlu kita ketahui bahwa membaca al qur’an pun juga dapat meningkatkan kecerdasan otak janin lebih baik lagi.

6. Janin Tumbuh Sehat, Cerdas dan Islami

Al quran itu sendiri merupakan kalam ilahi yang bisa dijadikan sebagai media berkomunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Ibu hamil bisa memohon pertolongan Alloh supaya masa kehamilan serta proses melahirkan nantinya dapat berjalan dengan mudah. Dengan membaca ayat-ayat suci al qur’an, ibu hamil beserta janin akan mendapatkan kenyamanan dan ketenangan.

Untuk itu, membaca al qur’an dapat dijadikan terapi alami yang tidak membutuhkan biaya mahal. Apabila intensitas membaca al qur’an bisa ditingkatkan maka anak nantinya akan tumbuh menjadi pribadi cerdas yang islami. Selain itu, ketenangan antara ibu dan janin yang masih berada didalam kandungan juga akan membuat tingkat kesehatan keduanya terjaga.

7. Anak Mempunyai Tingkat Moralitas yang Tinggi

Anak yang selama berada didalam masa kehamilan rutin mendengarkan bacaan al qur’an biasanya akan tumbuh lebih mencolok dibandingkan anak-anak seusianya. Selain itu, dari sikap dan tingkah laku juga mencerminkan nilai-nilai islami yang kuat. Salah satu perilaku yang menunjukan tingkat moralitas yang tinggi pada seorang anak yakni ia akan mudah menyadari kesalahan yang umum dilakukan oleh anak-anak sebayanya. Misalkan si anak telah diingatkan akan kesalahan yang dilakukan, biasanya sesegera mungkin akan mempunyai keinginan untuk meminta maaf terlebih dahulu.

8. Mudah Diarahkan pada Perkara Agamis

Anak-anak yang rutin diperdengarkan bacaan ayat-ayat al qur’an selama didalam kandungan akan mempunyai tingkat kenakalan yang tidak berlebihan. Bahkan anak ini cenderung sangat mudah diarahkan untuk melakukan hal -hal yang menyangkut perkara agama. Terutama ketika diajarkan untuk beribadah seperti shalat dan mengaji. Kita pasti pernah menjumpai anak-anak dibawah umur yang justru mengingatkan orang tua atau teman sebayanya untuk melakukan ibadah bukan? Hal tersebut merupakan bukti nyata, bahwa ibu hamil yang rutin membaca al qur’an ketika hamil akan melahirkan anak yang taat pada perintah Tuhannya.

9. Anak Mempunyai Tingkat Kreatifitas yang Tinggi dan Mudah Menghafal

Anak-anak yang terbiasa mendengarkan bacaan al qur’an akan mempunyai daya ingat yang tinggi. Ingatan atau memori yang tajam menjadikan anak ini mudah untuk menghafal, terutama hafalan al qur’an. Selain kecerdasan dalam hal hafalan, anak- anak yang terbiasa diperdengarkan bacaan al qur’an semenjak didalam kandungan juga akan mempunyai tingkat kreatifitas yang tinggi.

10. Tumbuhnya Kecerdasan Berkomunikasi pada Anak

Ayat-ayat suci al qur’an apabila sering dibaca atau diperdengarkan akan membuat anak mempunyai tingkat kecerdasan berkomunikasi yang baik. Jika dari segi sosial anak-anak ini mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi, satu hal yang dapat dilihat pada anak tersebut yakni kemampuan menyampaikan isi pikiran secara orasi. Dari segi artikulasi dan tutur kata yang lugas mampu mencerminkan tingkat kecerdasan berkomunikasi pada anak-anak.

Selasa, 17 Januari 2017

Hukum Selamatan pada masa Kehamilan 4 dan 7 Bulan

Ngupati adalah upacara selamatan ketika kehamilan menginjak pada usia 4 bulan. Sedangkan mitoni atau tingkepan (melet kandung) adalah upacara selamatan ketika kandungan berusia 7 bulan. Upacara selamatan tersebut dilakukan dengan tujuan agar janin yang ada dalam kandungan nantinya lahir dalam keadaan sehat, wal afiyat serta menjadi anak yang saleh. Penentuan bulan keempat tersebut, mengingat pada saat itu adalah waktu ditiupnya ruh oleh Malaikat kepada si janin di dalam kandungan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih. Sedangkan penetapan bulan ketujuh sebagai selamatan kedua, karena pada masa tersebut si janin telah memasuki masa-masa siap untuk dilahirkan. Dalam al-Qur’an al-Karim difirmakan:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". (QS al-A’raf : 189).

Dalam ayat di atas, diisyaratkan tentang pentingnya berdoa ketika janin telah memasuki masa-masa memberatkan kepada seorang ibu.

Al-Qur’an al-Karim menganjurkan kita agar selalu mendoakan anak cucu kita, kendatipun mereka belum lahir. Dalam al-Qur’an dikisahkan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang mendoakan anak cucunya yang masih belum lahir:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ. (البقرة: ١٢٨)

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (QS. al-Baqarah : 128).

Al-Qur’an juga menganjurkan kita agar selalu berdoa:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. (الفرقان: ٧٤)

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan : 74).

Di sisi lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mendoakan janin sebagian sahabat beliau. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih berikut ini:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ يَشْتَكِي فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ فَقُبِضَ الصَّبِيُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِي قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارُوا الصَّبِيَّ فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ أَعْرَسْتُمْ اللَّيْلَةَ قَالَ نَعَمْ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا. (رواه البخاري ومسلم)

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Abu Tholhah memiliki seorang anak laki-laki yang sedang sakit. Kemudian ia pergi meninggalkan keluarganya. Kemudian anak kecil itu meninggal dunia. Setelah Abu Tholhah pulang, beliau bertanya kepada isterinya, Ummu Sulaim, “Bagaimana keadaan anak kita?” Ummu Sulaim menjawab, “Dia sekarang dalam kondisi tenang sekali.” Kemudian Ummu Sulaim menyiapkan makanan malam, sehingga Abu Tholhah pun makan malam. Selesai makan malam, keduanya melakukan hubungan layaknya suami isteri. Setelah selesai, Ummu Sulaim menyuruh orang-orang agar mengubur anak laki-lakinya itu. Pagi harinya, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan kejadian malam harinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Tadi malam kalian tidur bersama?” Abu Tholhah menjawab, “Ya.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa, “Ya Allah, berkahilah keduanya.” Lalu Ummu Sulaim melahirkan anak laki-laki.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Di sisi lain, ketika seseorang di antara kita memiliki bayi dalam kandungan, tentu kita mendambakan agar buah hati kita lahir ke dunia dalam keadaan sempurna, selamat, sehat wal afiyat dan menjadi anak yang saleh sesuai dengan harapan keluarga dan agama. Para ulama menganjurkan agar kita selalu bersedekah ketika mempunyai hajat yang kita inginkan tercapai. Dalam hal ini al-Imam al-Hafizh al-Nawawi –seorang ulama ahli hadits dan fiqih madzhab al-Syafi’i-, berkata:

يُسْتَحَبُّ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِشَيْءٍ أَمَامَ الْحَاجَاتِ مُطْلَقًا. (المجموع شرح المهذب ٤/٢٦٩). وَقَالَ أَصْحَابُنَا: يُسْتَحَبُّ اْلإِكْثَارُ مِنَ الصَّدَقَةِ عِنْدَ اْلأُمُوْرِ الْمُهِمَّةِ. (المجموع شرح المهذب ٦/٢٣٣).

“Disunnahkan bersedekah sekedarnya ketika mempunyai hajat apapun. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 4, hal. 269). Para ulama kami berkata, “Disunnahkan memperbanyak sedekah ketika menghadapi urusan-urusan yang penting.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 6, hal. 233).

Bersedekah pada masa-masa kehamilan, juga dilakukan oleh keluarga al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab al-Hanbali, yang diikuti oleh Syaikh Ibn Taimiyah dan menjadi madzhab resmi kaum Wahhabi di Saudi Arabia. Al-Imam al-Hafizh Ibn al-Jauzi al-Hanbali menyampaikan dalam kitabnya, Manaqib al-Imam Ahmad bin Hanbal, riwayat berikut ini:

“Imam al-Khallal berkata, “Kami menerima kabar dari Muhammad bin Ali bin Bahar, berkata, “Aku mendengar Husnu, Ibu yang melahirkan anak-anak al-Imam Ahmad bin Hanbal, berkata, “Aku berkata kepada tuanku (Ahmad bin Hanbal), “Tuanku, bagaimana kalau gelang kaki satu-satunya milikku ini aku sedekahkan?” Ahmad menjawab, “Kamu rela melepasnya?” Aku menjawab, “Ya.” Ahmad berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberimu pertolongan untuk melakukannya.” Husnu berkata, “Lalu gelang kaki itu aku serahkan kepada Abu al-Hasan bin Shalih dan dijualnya seharga 8 dinar setengah. Lalu uang itu ia bagi-bagikan kepada orang-orang pada saat kehamilanku. Setelah aku melahirkan Hasan, tuanku memberi hadiah uang 1 Dirham kepada Karramah, wanita tua yang menjadi pelayan kami.” (al-Imam Ibn al-Jauzi, Manaqib al-Imam Ahmad bin Hanbal, hal. 406-407).

Dari paparan di atas dapat disimpulkan, bahwa upacara selamatan pada masa-masa kehamilan seperti ngapati ketika kandungan berusia 4 bulan atau tingkepan ketika kandungan berusia 7 bulan, tidak dilarang oleh agama, bahkan substansinya dianjurkan dan pernah dilakukan oleh keluarga al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali, madzhab resmi kaum Wahhabi di Saudi Arabia.

TANGGAPAN TERHADAP WAHABI
Sekitar satu minggu yang lalu, ketika penulis mengisi acara di Harlah NU ke 90 di Kota Manado, Sulawesi Utara, ada seorang sahabat, dari Jakarta, meminta penulis memberikan tanggapan terhadap tulisan seorang Wahabi yang melarang acara selamatan 4 dan 7 bulanan kehamilan. Berikut tanggapan kami.

WAHABI: Tradisi 4 bulan, 7 bulan dan semisalnya ketika seorang istri sdg hamil yg biasa dilakukan oleh sbgn kaum muslimin adalah bukan termasuk ajaran Islam. Maka kita wajib meninggalkannya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai imam dan panutan kita yg terbaik dan paling sempurna tidak pernah melakukan tradisi seperti itu ketika istri beliau Khodijah radhiyallahu ‘anha hamil 4 bulan atau 7 bulan sebanyak 7 kali kehamilan.

SUNNI: Pernyataan tersebut jelas keliru. Berikut tanggapan kami:

1) Tradisi yang tidak dilarang di dalam agama diakui di dalam al-Qur’an sebagai bagian dari ajaran agama. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (الأعراف: 199)

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf (tradisi yang baik), serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”. (QS. al-A’raf : 199).

Dalam ayat di atas Allah memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar menyuruh umatnya mengerjakan yang ma’ruf. Maksud dari ‘urf dalam ayat di atas adalah tradisi yang baik. Al-Imam Abu al-Muzhaffar al-Sam’ani, seorang ulama Ahlussunnah terkemuka berkata:

والعرف ما يعرفه الناس ويتعارفونه فيما بينهم

Makna ‘uruf dalam ayat di atas adalah sesuatu yang dikenal oleh manusia dan mereka jadikan tradisi di antara mereka. (Qawathi’ al-Adillah, juz 1 hlm 29, Daral-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999).

Syaikh Wahbah al-Zuhaili berkata:

وَالْوَاقِعُ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْعُرْفِ فِي اْلآَيَةِ هُوَ الْمَعْنَى اللُّغَوِيُّ وَهُوَ اْلأَمْرُ الْمُسْتَحْسَنُ الْمَعْرُوْفُ

“Yang realistis, maksud dari ‘uruf dalam ayat di atas adalah arti secara bahasa, yaitu tradisi baik yang telah dikenal masyarakat.” (Al-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, 2/836).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ وَمَرْوَانَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَسْأَلُونِي خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللهِ إِلاَّ أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا. رواه البخاري

“Dari Miswar bin Makhramah dan Marwan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Tuhan yang jiwaku berada pada kekuasaan-Nya, mereka (kaum Musyrik) tidaklah meminta suatu kebiasaan (adat), dimana mereka mengagungkan hak-hak Allah, kecuali aku kabulkan permintaan mereka.” (HR. al-Bukhari [2581]).

Dalam riwayat lain disebutkan:

أَمَّا وَاللهِ لاَ يَدْعُونِي الْيَوْمَ إِلَى خُطَّةٍ ، يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرْمَةً ، وَلاَ يَدْعُونِي فِيهَا إِلَى صِلَةٍ إِلاَّ أَجَبْتُهُمْ إِلَيْهَا. رواه ابن أبي شيبة

“Ingatlah, demi Allah, mereka (orang-orang musyrik) tidak mengajakku pada hari ini terhadap suatu kebiasaan, dimana mereka mengagungkan hak-hak Allah, dan tidak mengajukku suatu hubungan, kecuali aku kabulkan ajakan mereka.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, [36855]).

Hadits di atas memberikan penegasan, bahwa Islam akan selalu menerima ajakan kaum Musrik pada suatu tradisi yang membawa pada pengagungan hak-hak Allah dan ikatan silaturrahmi. Hal ini membuktikan bahwa Islam tidak anti tradisi.”

Perhatian Islam terhadap tradisi juga ditegaskan oleh para sahabat, antara lain Abdullah bin Mas’ud yang berkata:

قال عبد الله بن مسعود : مَا رَآَهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَآَهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئاً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّءٌ. رواه أحمد وأبو يعلى والحاكم

"Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tradisi yang dianggap baik oleh umat Islam, adalah baik pula menurut Allah. Tradisi yang dianggap jelek oleh umat Islam, maka jelek pula menurut Allah.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan al-Hakim).”

2) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melarang selamatan dan doa bersama 4 dan 7 bulanan kehamilan. Sehingga melarang tradisi yang tidak dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan suatu kesalahan dan termasuk bid’ah dholalah.

WAHABI: Adapun amalan-amalan yg semestinya dikerjakan oleh wanita yg sdg hamil adalah sbgmn amalan para wanita muslimah pada umumnya, baik ketika hamil ataupun tidak hamil, yaitu:
»3. Memperbanyak dzikirullah dan amalan2 sunnah spt baca Al-Qur’an, tasbih, tahmid, takbir, istighfar, sholat sunnah, dsb.
»4. Bersyukur kpd Allah atas nikmat-Nya yg dianugerahkan kpdanya berupa kehamilan anak yg akan menjadik keturunannya yg sholih n sholihah, in syaa Allah, yaitu dgn melaksanakan perintah2Nya dan menjauhi larangan2Nya.
»5. Memperbanyak doa kpd Allah agar diberi kesehatan, kekuatan n kemudahan dan keselamatan selama hamil hingga proses melahirkan kandungannya.

SUNNI: Anjuran melakukan kebajikan seperti beribadah dan bersedekah bagi seorang yang hamil dan tidak hamil, memang benar. Baik kebajikan tersebut dilakukan secara terus menerus, maupun dilakukan dalam waktu tertentu seperti ketika pada masa 4 dan 7 bulanan. Demikian ini didasarkan pada dalil berikut ini:

1) Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَفْعَلُهُ. رواه البخاري

“Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi Masjid Quba’ setap hari sabtu, dengan berjalan kaki dan berkendaraan.” Abdullah bin Umar juga selalu melakukannya. (HR. al-Bukhari, [1193]).

Hadits di atas menjadi dalil bolehnya menetapkan waktu-waktu tertentu secara rutin untuk melakukan ibadah dan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan hari Sabtu sebagai hari kunjungan beliau ke Masjid Quba’. Beliau melakukan hal tersebut, bukan karena hari Sabtu memiliki keutamaan tertentu dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Berarti menetapkan waktu tertentu untuk kebaikan, hukumnya boleh berdasarkan hadits tersebut. Karena itu al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

وَفِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ عَلىَ اخْتِلاَفِ طُرُقِهِ دَلاَلَةٌ عَلىَ جَوَازِ تَخْصِيْصِ بَعْضِ اْلأَيَّامِ بِبَعْضِ اْلأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالْمُدَاوَمَةِ عَلىَ ذَلِكَ

“Hadits ini, dengan jalur-jalurnya yang berbeda, mengandung dalil bolehnya menentukan sebagian hari, dengan sebagian amal saleh dan melakukannya secara rutin.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 3 hlm 69).

2) Hadits Sayidina Bilal radhiyallahu ‘anhu

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ: «يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِيْ بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي اْلإِسْلاَمِ فَإِنِّيْ سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ فِي الْجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِيْ مِنْ أَنِّيْ لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُوْرًا فِيْ سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطَّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِيْ. وَفِيْ رِوَايَةٍ : قَالَ لِبِلاَلٍ: «بِمَ سَبَقْتَنِيْ إِلَى الْجَنَّةِ؟ قَالَ: مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِيْ حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ وَرَأَيْتُ أَنَّ للهِ عَلَيَّ رَكْعَتَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «بِهِمَا» أَيْ نِلْتَ تِلْكَ الْمَنْزِلَةَ». رواه البخاري ومسلم.

“Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Bilal ketika shalat fajar: “Hai Bilal, kebaikan apa yang paling engkau harapkan pahalanya dalam Islam, karena aku telah mendengar suara kedua sandalmu di surga?”. Ia menjawab: “Kebaikan yang paling aku harapkan pahalanya adalah aku belum pernah berwudhu’, baik siang maupun malam, kecuali aku melanjutkannya dengan shalat sunat dua rakaat yang aku tentukan waktunya.” Dalam riwayat lain, beliau SAW berkata kepada Bilal: “Dengan apa kamu mendahuluiku ke surga?” Ia menjawab: “Aku belum pernah adzan kecuali aku shalat sunnat dua rakaat setelahnya. Dan aku belum pernah hadats, kecuali aku berwudhu setelahnya dan harus aku teruskan dengan shalat sunat dua rakaat karena Allah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Dengan dua kebaikan itu, kamu meraih derajat itu”.(HR. al-Bukhari (1149), Muslim (6274)).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam belum pernah menyuruh atau mengerjakan shalat dua rakaat setiap selesai berwudhu atau setiap selesai adzan, akan tetapi Bilal melakukannya atas ijtihadnya sendiri, tanpa dianjurkan dan tanpa bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya, bahkan memberinya kabar gembira tentang derajatnya di surga, sehingga shalat dua rakaat setiap selesai wudhu menjadi sunnat bagi seluruh umat. Dengan demikian, berarti menetapkan waktu ibadah berdasarkan ijtihad hukumnya boleh. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata ketika mengomentari hadits tersebut:

وَيُسْتَفَادُ مِنْهُ جَوَازُ اْلاِجْتِهَادِ فِيْ تَوْقِيْتِ الْعِبَادَةِ لأَنَّ بِلاَلاً تَوَصَّلَ إِلىَ مَا ذَكَرْنَا بِاْلاِسْتِنْبَاطِ فَصَوَّبَهُ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Dari hadits tersebut dapat diambil faedah, bolehnya berijtihad dalam menetapkan waktu ibadah. Karena sahabat Bilal mencapai derajat yang telah disebutkan berdasarkan istinbath (ijtihad), lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 3 hlm 34).

3) Hadits Ziarah Tahunan

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِيْ قُبُوْرَ الشُّهَدَاءِ عَلىَ رَأْسِ كُلِّ حَوْلٍ فَيَقُوْلُ:"اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ"، وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ. (رواه ابن جرير في تفسيره).

“Muhammad bin Ibrahim berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi makam para syuhada’ setiap tahun, lalu berkata: “Salam sejahtera semoga buat kalian sebab kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” Hal ini juga dilakukan oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman. (HR. al-Thabari dalam Tafsir-nya [20345], dan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya juz 4 hlm 453).

Hadits di atas juga disebutkan oleh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur hlm 185, dan ditentukan bahwa makam Syuhada yang diziarahi setiap tahun oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syuhada peperangan Uhud. Hadits ini dapat dijadikan dalil, tentang tradisi haul kematian setiap tahun.

4) Atsar Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ كَانَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزُوْرُ قَبْرَ حَمْزَةَ كُلَّ جُمْعَةٍ. (رواه عبد الرزاق في المصنف).

“Muhammad bin Ali berkata: “Fathimah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam Hamzah setiap hari Jum’at.” (HR. Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf [6713]).

عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ : أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ تَزُوْرُ قَبْرَ عَمِّهَا حَمْزَةَ كُلَّ جُمْعَةٍ فَتُصَلِّي وَتَبْكِيْ عِنْدَهُ رواه الحاكم والبيهقي قال الحاكم هذا الحديث رواته عن آخرهم ثقات.

“Al-Husain bin Ali berkata: “Fathimah putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzah setiap hari Jum’at, lalu berdoa dan menangis di sampingnya.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak [4319], al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra [7000]. Al-Hakim berkata: “Semua perawi hadits tersebut dipercaya”.).

5) Atsar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ حَدِّثْ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلاَثَ مِرَارٍ وَلا تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا الْقُرْآنَ. رواه البخاري.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: "Sampaikanlah hadits kepada manusia setiap Jum’at sekali. Jika kamu tidak mau, maka lakukan dua kali. Jika masih kurang banyak, maka tiga kali. Jangan kamu buat orang-orang itu bosan kepada al-Qur’an ini. (HR. al-Bukhari [6337]).

6) Atsar Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

عَنْ شَقِيقٍ أَبِى وَائِلٍ قَالَ كَانَ عَبْدُ اللهِ يُذَكِّرُنَا كُلَّ يَوْمِ خَمِيسٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّا نُحِبُّ حَدِيثَكَ وَنَشْتَهِيهِ وَلَوَدِدْنَا أَنَّكَ حَدَّثْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ. فَقَالَ مَا يَمْنَعُنِى أَنْ أُحَدِّثَكُمْ إِلاَّ كَرَاهِيَةُ أَنْ أُمِلَّكُمْ. إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِى الأَيَّامِ كَرَاهِيَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا. رواه البخاري ومسلم

“Syaqiq Abu Wail berkata: “Abdullah bin Mas’ud memberikan ceramah kepada kami setiap hari Kamis. Lalu seorang laki-laki berkata kepada beliau: “Wahai Abu Abdirrahman, sesungguhnya kami senang dengan pembicaraanmu dan selalu menginginkannya. Alangkah senangnya kami jika engkau berbicara kepada kami setiap hari.” Ibnu Mas’ud menjawab: “Tidaklah mencegahku untuk berbicara kepada kalian, kecuali karena takut membuat kalian bosa. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nasehat kepada kami dalam hari-hari tertentu, khawatir membuat kami bosan.” (HR. al-Bukhari [70], dan Muslim [7305]).

Hadits-hadits di atas dapat dijadikan dalil bagi penentuan masa 4 dan 7 bulanan selamatan kehamilan, tentu bagi orang yang mau menggunakan akalnya dan memahami al-Qur’an dan hadits dengan mengikuti para ulama yang diakui keilmuannya.

WAHABI: Tidak Ada Amalan Khusus Yg Disyari’atkan dlm agama Islam ketika seorang Wanita Muslimah HamiL.

SUNNI: Ada isyarat amalan meminta doa kepada orang lain dan berdoa sendiri dalam dalil-dalil di atas. Tentu berdoa akan lebih bagus jika disertai sedekah dan doa bersama, bukankah begitu?” Wallahu a’lam.

Minggu, 15 Januari 2017

Doa Untuk Ibu Hamil

Banyak metode yang digunakan dalam menjaga kesehatan janin selama kehamilan. Senam kehamilan, yoga bagi ibu hamil ataupun beberapa terapi yang disarankan oleh ahli medis berfungsi dalam kelangsungan janin dan mempersiapkan persalinan. Semua metode tersebut bisa anda sempurnakan dengan doa-doa baik selama kehamilan atau mempersiapkan persalinan.
Berikut adalah doa yang memiliki manfaat untuk ibu hamil :

1. Bismillahhirrahmaanir rahiim, Robbi inni nadzartu laka maa fii bathnii muharroron fataqobbalminnii, Innaka antas sami'ul alim". (QS. Ali Imran 35-36)

Artinya : Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku manjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui dan aku mohon perlindungan untuknya dan keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk.

2.  Rabbii habli miladunka dzurriyyatan thoyyibah. Innaka sammi’uddu’aa". (QS. Ali Imran 38)

Artinya: Ya Allah berikanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau adalah pendengar permohonan (doa).

3.  Rabbii hablii minash shoolihin"

Artinya : Ya Allah berikanlah kepadaku anak yang shalih.

4. Robbij’alnii muqiimash sholaati wa min dzurriyatii robbanaa wa taqobbal du’aa". ( QS. Ibrahim 40 )

Artinya: Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami perkenankanlah doaku.

5.  Beberapa surat di dalam al-quran memiliki keutamaan untuk ibu hamil adalah sebagai berikut :
  •     Al-Mu’minuun ( Surat ke-23, ayat  12-14 )
  •     Lukman (Surat ke-31, ayat 14)
  •     Yusuf (Surat ke 12, ayat 1-16)
  •     Maryam (Surat ke-19, ayat 1-15)
  •     Ar Rahmaan (Surat ke-55, ayat 1-78)
Kemudian disempurnakan dengan bacaan di bawah ini :

Bismillahhirrahmaanir rahiim, Alhamdu lillaahi rabbil’aalamiin, Allaahumma shalli alaa sayyidinaa Muhammad, Thibbil quluubi wadawaaihaa, Wa’aafiyatil abdaani wa syifaa ihaa, Wanuuril abshaari wa dhiyaa ihaa, Waquutil arwaahi wagidzaa ihaa, Wa’alaa aalihi washahbihi wabaarik wa sallim, Allaahummahfazh waladaha maa daama fii bathnihaa, Washfihii ma’a ummihi antasysyaafii laa syifaaa illaa syifaa uka syifaa an laa yugoodiru saqoman, Allaahumma shawwirhu fii bathnihaa shuurotanhasanatan, Watsabbit qolbahu iimaanan bika wabiraa suulika, Allaahumma akhrijhu min bathni ummihi waqta walaada tihaa sahlan wasaliiman, Allaahummaj ‘alhu shahiihan kaamilan wa’aaqilan haa dziqan wa’aaliman’aamilan, Allaahumma thawwil umrahu washahhih jasadahu wahassin khuluqohu wafashshih lisaa nahu, Wa ahsin shautahu li qiraa atil hadiitsi wal qur’aan, Wawasi’rijqahu, Wajalhu insaanan kaamilan saaliman fiddunya wal aakhirah, Bibirakati sayyidinaa Muhammaddin shallallaahu’alaihi wasallam wal hamdu lillahi rabbil’aalamiina Aaamin, aamin aamin yaa robbal aalamin
Artinya :
Dengan menyebut nama Allah yg Maha Pengasih lagi Maha penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah tambahkanlah kesejahteraan kepada penghulu kami Nabi Muhammad SAW Sebagai pengobat dan penawar hatiku Penyehat dan penyegar badanku Sebagai sinar dan cahaya pandangan mata Sebagai penguat dan santapan rohani Dan kepada keluarganya dan para sahabatnya berikanlah keberkahan dan keselamatan. Ya Allah semoga Engkau lindungi bayi ini selama ada dalam kandungan ibunya Dan semoga Engkau memberikan kepada bayi dan ibunya Allah yang memberi kesehatan. Tidak ada kesehatan selain kesehatan Allah, kesehatan yang tidak diakhiri dengan penyakit lain. Ya Allah semoga Engkau ciptakan bayi ini dalam kandungan ibunya dgn rupa yg bagus Dan semoga Engkau tanamkan hatinya bayi ini iman kepada-Mu ya Allah dan kepada Rosul-Mu. Ya Allah semoga Engkau mengeluarkan bayi ini dari dalam kandungan ibunya pada waktu yg telah ditetapkan dalam keadaan yg sehat dan selamat. Ya Allah semoga Engkau jadikan bayi ini sehat, sempurna, berakal cerdas dan mengerti dalam urusan agama. Ya Allah semoga Engkau memberikan kepada bayi ini umur yang panjang, sehat jasmani dan rohani, bagus budi perangainya, fasih lisannya Serta bagus suaranya untuk membaca dan Al Quran Dan tinggikanlah derajatnya Dan luaskanlah rizkinya Dan jadikanlah bagi manusia yg sempurna selamat di dunia dan akhirat. Dengan berkahnya Nabi besar Muhammad SAW dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam aamin, aamin aamin yaa robbal aalamin Kabulkanlah doa kami, kabulkanlah doa kami, kabulkanlah doa kami, ya Allah seru sekalian alam.

Al qur’an tidak hanya kitab suci bagi pemeluk agama islam, namun dengan membaca atau mendengarkannya justru mempu mendatangkan manfaat secara psikologis. Bahkan sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan oleh di Kuwait menemukan fakta bahwa seseorang yang tidak memeluk agama islam sekalipun akan mendapatkan dan merasakan efek terapeutik yang menenangkan. Padahal ayat-ayat yang mereka perdengarkan merupakan bahasa arab yang tidak mereka ketahui. Hal ini dapat terjadi karena adanya perubahan secara fisiologis pada sistem saraf ketika mendengar bacaan ayat-ayat al qur’an. Bacalah artikel tentang 10 Manfaat Membaca Al Qur’an bagi Wanita Hamil,

Adapula Hukum dan Cara Solat Duduk Bagi Ibu Hamil, melalui sholat ibu hamil meminta perlindungan atas calon bayinya dan melalui sholat ibu hamil juga bisa memohon pertolongan agar dimudahkan disaat melahirkan, bertawakatlah atau berserah dirilah kepada sang pemilik alam semesta, sebab dialah jalan satu2nya untuk mencapai hidup yang hakiki.

semoga artikel ini dapat memberikan tambahan ilmu untuk bunda. wassalam

Jumat, 13 Januari 2017

Doa dan Dzikir Yang Hendaknya Selalu Dilafalkan oleh Bunda saat hamil

Berikut ini adalah do’a yang hendaknya selalu dilafalkan ibu hamil sebanyak mungkin, terutama setelah shalat wajib ataupun shalat sunnah:

Doa Agar Dikaruniai Keluarga yang Saleh

Rabbanaa hab lanaa min azwaajina wadzurriyaatinaa qurrata a’yunin waj’a lilmutaqiina imaman

”Ya Tuhan Kami, anugerahilah kami dari isteri-isteri kami anak-cucu kami yang menyenangkan kami dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” (al-Furqon: 74)

Doa Ibrahim Agar Keturunannya Menjadi Ummat Yang Patuh dan Taat

Rabbanaa waj’alnaa Muslimaini laka wamin dzurriyatinaa ummatan Muslimatan laka warinaa manasikanan watub’alaina innaka antal tawaabur rahiim

”Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan jadikanlah di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat haji kami, dan terimalah Taubat kami. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 128)

Doa Ibrahim agar Dirinya dan Anak Cucunya Selalu Dapat Menegakkan Shalat

Rabbij’alnii muqiimash shalaati wa min dzurriyati, Rabbanaa wataqabbal du’a

”Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (Ibrahim: 40)

Doa Ibrahim agar Dikaruniai Anak Saleh

Rabbi hablii minash shalihiiin

”Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (ash-Shaaffat: 100)

Doa Istri Imran ketika Mengandung

Rabbi innii nadzartu laka maa fii bathnii muharraran fataqabbal minnii innaka anta sami’ul aliim

”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di baitul Maqdis). Karena itu terimalah nazar itu dari padaku. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ali Imron: 35)

Doa Istri Imron setelah Melahirkan (Maryam)

”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada pemeliharaan Engkau daripada setan yang terkutuk.” (Ali Imron: 36)

Rabu, 11 Januari 2017

Doa dan Dzikir untuk Bunda saat hamil

Salah satu energi terbesar bagi seorang wanita hamil dalam menghadapi berbagai kesulitan adalah banyak berdzikir dan berdo’a kepada Allah. Perasaan antara gembira, takut, khawatir dan perasaan lainnya sering dialami oleh wanita yang hamil atau akan melahirkan. Maka perbanyaklah mengingat Allah agar hati menjadi tentram.
Dzikir yang terbaik dan sangat dianjurkan adalah memperbanyak membaca al-Qur’an. Satu huruf saja mengandung sepuluh kebaikan. Di dalamnya terdapat obat bagi penyakit lahir maupun batin. Bacalah tanpa menentukan surat-surat tertentu, kecuali di saat-saat tertentu yang terdapat dalil bagi keutamaannya.
Dzikir berikutnya yang sangat dianjurkan adalah Dzikir Pagi dan Petang.
Berikut ini sebagian dzikir dan do’a yang dianjurkan untuk dibaca oleh wanita yang sedang hamil agar mendapatkan ketenangan hati dan dijaga dari berbagai kejahatan.


  1. Membaca QS. Al-Faatihah
Keterangan: Ibnul Qayyim berkata: “aku pernah tinggal beberapa waktu lamanya di Makkah. Ketika itulah aku menderita beberapa penyakit, sementara aku tidak menjumpai dokter dan tidak pula menemukan obat. Maka aku mengobati diriku sendiri dengan surat al-Faatihah. Aku melihat pengaruhnya yang menakjubkan dengan izin Allah. Aku pun menceritakan pengalamanku ini kepada orang yang mengeluhkan sakitnya. Dan kebanyakan dari mereka sembuh dengan cepat.”
  1. Membaca ayat Kursiy
Keterangan: Dibaca satu kali di pagi hari dan satu kali di sore hari. Juga ketika akan tidur dan setelah setiap shalat fardhu.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca ayat ini ketika pagi hari, maka ia dilindungi dari gangguan jin hingga sore hari. Dan barangsiapa mengucapkannya ketika sore hari, maka ia dilindungi dari (gangguan) jin hingga pagi hari.”


  1. Membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah (yakni ayat 285 dan 286)
Keterangan: Dibaca satu kali di sore hari atau sebelum tidur, atau dibacakan di rumah. Dzikir ini berguna agar dicukupi dan dijaga dari segala sesuatu.
  1. Membaca surat al-Iklhas dan Mu’awwidzatain (QS. Al-Falaq dan an-Naas)
Keterangan: Dibaca masing-masing tiga kali di pagi dan sore hari. Juga dibaca sebelum tidur4. Dibaca juga setiap selesai shalat masing-masing satu kali.
Khasiatnya di antaranya menjadi pencukup dan penjaga dari segala sesuatu dengan izin Allah.
  1. Membaca ayat-ayat lainnya yang berkaitan dengan perlindungan Allah, seperti yang dimuat dalam Ifaadah fii maa Jaa-a min Dzikril Wilaadah, yakni:
  • QS. Ash-Shaaffaat: 1-10
  • QS. Al-Mu’minuun: 97-98
  1. Membaca ayat-ayat yang disebutkan dalam fatwa Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah (Lihat Bag. I), yakni:
  • Yang menunjukkan kemudahan (QS. Al-Baqarah: 185)
  • Yang menunjukkan tentang kehamilan dan kelahiran (QS. Faathir: 11)
  • Yang menunjukkan kekuasaan Allah untuk mengeluarkan sesuatu beban berat yang keluar, dan ketundukan segala makhluk kepada Allah Ta’ala (QS. Al-Zalzalah: 1-2, boleh juga dibaca lengkap seperti yang dicantumkan dalam kutaib yang berjudul al-Ifaadah fii maa Jaa-a fii Wirdil Wilaadah)


  1. Memperbanyak ucapan: laa haula walaa quwwata illa billaah
Keterangan: bacaan ini dapat dibaca sebanyak-banyaknya tanpa batasan jumlah dan merupakan suatu perbendaharaan dari banyak perbendaharaan Surga, dan khasiatnya sangat menakjubkan. 
  1. Mengucapkan bimillaah
Keterangan: bacalah ketika memulai segala perkara yang penting dan bermanfaat. Faedah bacaan ini adalah agar dijaga dari syaitan, sehingga ia tidak ikut makan dan menginap bersama orang yang membacanya
  1. Memperbanyak istighfar. Yaitu ucapan “Astaghfirullaah…” Dan di antaranya adalah sayyidul Istighfaar, yang dibaca di waktu pagi dan petang.
Keterangan: “Barangsiapa membacanya dengan yakin ketika sore hari, lalu ia meninggal dunia pada malam itu, maka ia masuk Surga. Dan demikian juga ketika pagi hari.”


Dan diantaranya lagi adalah do’a Nabi Yunus ‘alaihissalaam ketika dalam perut ikan (yakni QS. Al-Anbiyaa’: 87)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Maka tidaklah seorang muslim berdo’a dengannya pada sesuatu, kecuali Allah akan mengabulkannya.”
Disadur dari buku “Do’a dan Dzikir untuk Ibu Hamil” oleh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, penerbit Pustaka Ibnu ‘Umar