Rabu, 25 Januari 2017

Hukum Berhubungan Intim Dengan Istri Yang Sedang Hamil

Terdapat dua pendapat berbeda mengenai hukum berhubungan intim dengan wanita yang sedang hamil diantaranya ialah:

1. Sebagian ulama' menyatakan bahwa berhubungan intim dengan wanita yang sedang hamil hukumnya makruh, mereka mendasarkan pendapatnya pada hadits yang diriwayatkan oleh Asma' binti Yazid As-Sakan yang mendengar Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda :

لَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ سِرًّا، فَإِنَّ الْغَيْلَ يُدْرِكُ الْفَارِسَ فَيُدَعْثِرُهُ عَنْ فَرَسِهِ

"Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian secara rahasia, sesungguhnya pengaruh menggauli isteri pada waktu menyusui/hamil akan menimpa penunggang kuda sehingga menyebabkannya lemah dan terjatuh dari kudanya." (Sunan Abu Dawud, no.3881, Sunan Ibnu Majah, no.2012 dan Shohih Ibnu Hibban, no.5984)

Hadits diatas secara tegas menyatakan larangan untuk melakukan ghoil, ghoil adalah menggauli wanita yang sedang hamil atau menyusui. Praktek ini dianggap sebagai pembunuhan secara samar terhadap anak yang dikandung, meskipun efek buruknya tidak nampak secara langsung, dan terkadang baru nampak ketika bayi yang dikandung sudah dilahirkan dan sudah dewasa. Dalam hadits diatas dicontohkan bahwa perbuatan itu seperti orang yang menggoncangkan kuda hingga orang yang menunggangnya jatuh. Hal ini dikarenakan air susu wanita akan rusak apabila terjadi persenggamaan pada masa kehamilan sehingga anak yang dilahirkan akan lemah, dan inilah yang dianggap sebagai pembunuhan dengan samar.

2. Mayoritas ulama' berpendapat bahwa berhubvungan intim dengan wanita yang sedang hamil itu diperbolehkan dan tidak makruh. Mereka mendasarkan pendapatnya pada beberapa hadits, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Judamah binti Wahab Al-Asadiyyah, ia mendengar Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنِ الْغِيلَةِ، فَنَظَرْتُ فِي الرُّومِ وَفَارِسَ، فَإِذَا هُمْ يُغِيلُونَ أَوْلَادَهُمْ، فَلَا يَضُرُّ أَوْلَادَهُمْ ذَلِكَ شَيْئًا

"Sungguh, tadinya aku ingin melarang dari ghilah, lalu aku lihat orang-orang Persia dan Romawi melakukannya dan itu tidak membahayakan anak-anak mereka." (Shohih Muslim, no.1442)

Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qodir menjelaskan; maksud dari hadits diatas adalah jika memang benar bahwa menggauli istri yang sedang hamil itu membahayakan tentunya bahaya itu akan bisa dilihat dari anak-anak orang romawi dan persia karena mereka melakukannya, sedangkan para ahli kesehatan banyak dikalangan mereka, nyatanya dokter-dokter mereka tak ada yang melarang hal tersebut, karena itulah aku juga tidak melarangnya.

Beliau juga menukil perkataan Syekh Ibnul qoyyim yang menjelaskan; hadits ini tidak bertentangan dengan hadits yang melarang ghilah, sebab maksud nabi adalah mendiskusikan dan memberikan pengarahan kepada para sahabat untuk tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan anak yang akan menjadi lemah atau mati, sebab bayi yang ada dalam kandungan memperoleh asupan makanan dari darah haidh sang ibu, dikhawatirkan persenggamaan yang dilakukan saat hamil akan merusak kualitas air susu ibunya, dan nanti saat bayi tersebut lahir dan menyusui, asupan gizi yang didapat dari air susu ibunya juga kurang sempurna, dan hal ini akan membuat kondisi bayi menjadi lemah. Jadi hal ini adalah himbauan dari Nabi untuk meninggalkan hal tersebut, namun beliau juga tidak mengharamkannya dan mencegah mereka untuk melakukannya, karena hal ini tidak selamanya terjadi pada semua anak.   

Kesimpulannya, berhubungan intim saat istri sedang hamil tu diperbolehkan dan tidak makruh menurut pendapat mayoritas ulama', kecuali apabila hal tersebut membahayakan bayi yang ada didalam kandungan berdasarkan penjelasan dari ahli kesehatan, apalagi jika usia kehamilannya sudah tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar